Kamis, 09 Juli 2015

Syiah adalah Benalu dalam Islam : Muslim Indonesia sebaiknya belajar dari Yaman

Syiah adalah Benalu dalam Islam dan Ancaman setiap negara yang berpenduduk Muslim
Bahaya syiah mengancam setiap negara karena mereka lebih patuh dengan Iran daripada negaranya sendiri, Doktrin Imamiyah mengharuskan demikian, dan syiah sangat piawai menggunakan isu-isu masyarakat dengan gaya bunglon, mereka bisa tampil sok nasional padahal buaya kudeta, mereka pura-pura membela palestina, anti Amerika atau anti Israel padahal mereka akrab di dunia nyata (contoh Syiah bekerja sama Amerika menjajah Irak). 

Media mainstream pada umumnya memberitakan Iran bermusuhan dengan Israel dan Amerika bermusuhan padahal sandiwara dan mereka adalah sahabat sekaligus mempunyai satu musuh bersama yaitu dunia Islam.


(photo credit : coxandforkum.com)
Gerakan Syiah di Yaman awalnya pura-pura menampakkan dirinya sebagai moderat penuh toleransi

Gerakan Syiah Houthi dimulai dengan nama “Ansarullah” yang didirikan pada tahun 1992  oleh  Mohammed al-Houthi,  atau saudaranya Hussein al-Houthi.   Menurut Ahmed Addaghashi, seorang profesor di Universitas Sanaa,  Houthi mulai sebagai gerakan teologis moderat yang diberitakan penuh toleransi yang diklaim berpandangan pandangan luas berpikiran sebagai orang Yaman.   Gerakan Houthi  pada awalnya hanya pendidikan agama dengan materi  termasuk ceramah oleh Mohammed Hussein Fadhlallah (seorang sarjana Syiah Lebanon) dan Hassan Nasrallah (Sekjen Hizbullah Libanon Partai).  

Meskipun Hussein al-Houthi, yang tewas pada tahun 2004 dan tidak memiliki hubungan resmi dengan Ansarullah, menurut Zaid, ia memberikan kontribusi kepada radikalisasi beberapa Zaydis.   Untuk memperdayai umat Islam,  orang syiah Houthi  mengadopsi slogan anti-Amerika dan anti-Yahudi  setelah invasi Amerika ke Irak padahal pada kenyataannya Syiah Iran lah yang memetik tongkat estapet berdarah dari Amerika dalam menjajah Iraq. .    


Penyusupan ideologi dan pengahsutan rakyat Yaman

Pemimpin Houthi seperti Issam Al-Imad menyatakan awal 2011 agama mereka dan ideologi dipengaruhi oleh Iran, dan pada 2014 telah mengamati bahwa "Pendekatan kelompok Houthi dalam banyak hal mirip dengan Hizbullah di Lebanon. Demikian pula soal agama keduanya berbasis di Iran serta mengikuti doktrin militer yang sama pula dan memuliakan Khomeini revolusi di Iran ". Sama sepertinya Syiah di Indonesia, Iran, Libanon, Irak, Bahrain, dan mayoritas Syiah yang ada di dunia, pemberontak Houthi pun berideologi Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah 12 Imam. Di antara ideologi gerakan ekstrim ini adalah:
  1. Ideologi imamah, yaitu bentuk ideologi yang berkeyakinan bahwa kepemimpinan tidak sah kecuali dari keturunan Ali bin Abi Thalib.   
  2. Membangkang kepada pemerintah dan menyiapkan diri untuk berhadapan dengan pemerintah.
  3. Memprovokasi dan membangkitkan semangat pengikutnya untuk memerangi Ahlussunnah. Karena Ahlussunnah meridhai selain Ali jadi khalifah, yaitu Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiallahu ‘anhum ajma’in.
  4. Memuji-muji revolusi Khomeini dan Hizbullah Libanon. Mereka menjadikan keduanya sebagai teladan yang wajib dicontoh.
  5. Memusuhi tiga khalifah pertama dan para sahabat nabi secara umum. Karena dari kaca mata ideologi Houthi dan Syiah 12 Imam, tiga khalifah pertama dan para sahabat nabi adalah sumber bencana pada umat ini. Badruddin al-Houthi mengatakan, “Saya pribadi meyakini kekafiran mereka (para sahabat pen.). Mereka (para sahabat) berada di jalan yang berbeda dengan Rasulullah ﷺ.”

Mereka mengajarkan mencela dan melaknat istri-istri Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau

Taktik  Demonstrasi dan Pembangkangan Sipil 
Pada awalnya Syiah Houthi menggunakan pembangkangan  sipil. Menyusul keputusan pemerintah Yaman pada 13 Juli 2014 untuk menaikkan harga BBM, pemimpin Houthi berhasil untuk mengatur aksi unjuk rasa besar-besaran di ibukota Sana'a untuk memprotes keputusan tersebut dan menuntut pengunduran diri pemerintah incumbent Abd Rabbuh Mansur Hadi protes ini berkembang menjadi fase pemberontakan. Demikian pula, saat tahun 2015 terjadi serangan udara yang dipimpin Arab terhadap Huthi yang diklaim menyerang kehidupan warga sipil (sipil kok bersenjata? dasar lidah ular syiah), Syiah di Yaman menanggapi dengan turun ke jalan-jalan ibukota, Sana'a, puluhan ribu untuk menyuarakan kemarahan mereka pada invasi Arab.

Houthi telah menggunakan aksi kedua yaitu militer sebagai usaha untuk mencapai tujuan politik mereka, dan telah dituduh pelanggaran hukum humaniter internasional seperti menggunakan tentara anak-anak , penjarahan file sekitar US operasi mata-mata, [evakuasi paksa, eksekusi, perpajakan dipaksa, dan perisai manusia . Pada tahun 2004, Hussein Badreddin al-Houthi memimpin pemberontakan di utara Yaman. saudara Hussein al-Houthi yang, Abdul-Malik al-Houthi , mengambil alih pemberontakan setelah kematiannya. Pada 2015, Houthi merebut ibukota Sana'a . 

Houthi telah menegaskan bahwa tindakan mereka untuk melawan ekspansi Salafisme di Yaman, dan untuk membela komunitas mereka yang katanya didiskriminasi, sedangkan pemerintah Yaman pada gilirannya menuduh pemberontak dari berniat untuk menggulingkan rezim mendestabilisasi pemerintah dan mengaduk sentimen anti-Amerika sebagai topeng untuk membuat kekacauan.. Pemerintah Yaman juga menuduh Houthi memiliki hubungan khusus dengan pemerintah Iran. Pada gilirannya, Houthi balik menuduh bahwa pemerintah Yaman sedang didukung oleh al-Qaeda dan Arab Saudi.  


Meminta dukungan senjata dari Iran
Para pejabat Yaman Saudi dan mantan mengklaim bahwa Huthi telah menerima dukungan dana dan senjata yang signifikan dari Iran serta pelatihan sejak tahun 2004, sementara kepemimpinan Houthi membantah memiliki senjata diterima atau dukungan keuangan dari Iran. Juga, Teheran membantah tuduhan mendukung Houthi. Sebuah informasi di bulan Desember 2009 dari berbagai lembaga intelijen serta informasi yang disebarkan oleh Wikileaks menyatakan bahwa Huthi memperoleh senjata dari pasar gelap Yaman dan anggota Garda Republik iran .  Pada tanggal 8  April Menteri Luar Negeri John Kerry menyatakan bahwa AS tahu Iran memberikan dukungan militer kepada pemberontak Houthi di Yaman.
Khamenei (photo credit :  toonpool.com)

Syiah melakukan chaos pemberontakan jika sudah merasa kuat dan itulah banyak yang terjadi beberapa negera :


“syiah mencintaimu di kala lemah tapi membantaimu di kala merasa sudah kuat”


Menurut Zaid, para pengikut Houthi meneriakkan slogan-slogan yang menarik perhatian pihak berwewenang dan terus meningkat dan mengkhawatirkan pemerintah atas gerakan al-Houthi itu. "Pihak berwenang keamanan berpikir bahwa jika hari ini Houthi meneriakkan “Matilah Amerika “, besok mereka bisa meneriakkan `Matilah kepada presiden".  Dan 800 demonstran pendukung syiah Houthi ditangkap di Sana'a pada tahun 2004. 

Presiden Ali Abdullah Saleh kemudian mengundang Hussein al-Houthi untuk pertemuan di Sana'a, tapi Hussein menolak.  Pada 18 Juni 2004 Saleh mengirim pasukan pemerintah menangkap Hussein.   Hussein merespon dengan meluncurkan pemberontakan terhadap pemerintah, tetapi dibunuh pada tanggal 10 September tahun 2004.   Pemberontakan terus terjadi disertai perjanjian gencatan senjata yang dicapai pada tahun 2010. 


Pemberontakan Besar Dimulai

Pemberontakan besar terjadi dan Houthi menguasai wilayah yang lebih besar.  Pada tanggal 9 November 2011,  Houthi dilaporkan mengendalikan dua wilayah Yaman (Saada dan Al Jawf) dan dekat dengan mengambil alih gubernuran ketiga mereka (Hajjah),  yang akan memungkinkan mereka untuk meluncurkan serangan langsung terhadap ibukota Yaman Sana 'a.  Pada bulan Mei 2012, dilaporkan bahwa Houthi menguasai mayoritas Saada, Al Jawf, dan Hajjah mereka juga telah memperoleh akses ke Laut Merah dan mulai mendirikan barikade di utara ibukota Sana'a dalam persiapan untuk konflik besar. 

Kudeta Syiah di Yaman
Pada tahun 21 September 2014, Houthi mengontrol bagian dari ibukota Yaman, Sana'a, termasuk gedung-gedung pemerintah dan stasiun radio. Sementara penguasaan diperluas ke seluruh Sana'a, serta kota-kota lain seperti Rada' ,  penguasaan wilayah mendapat tantangan dari Al-Qaeda.  Gerakan resmi mengambil alih pemerintah Yaman pada tanggal 6 Februari, membubarkan parlemen dan menyatakan Komite Revolusioner menjadi pihak yang berkuasa di Yaman.  

Tanggal 27 Maret 2015, dalam menanggapi ancaman yang dirasakan Houthi untuk faksi Sunni di wilayah tersebut, Arab Saudi bersama dengan Bahrain, Qatar, Kuwait, UEA, Mesir, Yordania, Maroko, dan Sudan memimpin serangan udara koalisi di Yaman. 


Jangan lupa baca :

Dimana ada komunitas Islam Tidak dilarang Syiah maka akan terjadi Perang Terbuka

Syiah adalah Benalu dalam Islam : Muslim Indonesia sebaiknya belajar dari Tunisia


terima kasih telah membaca artikel ini  
https://www.facebook.com/pensareindonesia


0 komentar: