Selasa, 24 Maret 2015

Maraknya budak politik berkeliaran di sosmed memuja politikus

Media berperan memainkan opini masyarakat 

Di jaman sekarang  dimana kultur politik pencitraan dan penguasaan media adalah syarat mutlak untuk memenangkan politik elektoral. Dengan kata lain, bila anda mampu menguasai media,  maka anda mampu menguasai pikiran masyarakat sehingga jalan menuju kekuasaan pun semakin mulus.
(photo credit : anonim)

Fungsi media kini telah bias. Media tak lagi menyalurkan informasi untuk mencerdaskan publik atau menyediakan informasi yang dibutuhkan hingga masyarakat buta realitas. Media sekarang lebih mengakomodasi kepentingan-kepentingan elit-elit politik di balik penyajian dan frekuensi pemuatan kontennya, sehingga tidak lagi dapat dipandang sebagai sarana informasi  yang mencerdaskan malah pembodohan dengan mengaduk-aduk informasi untuk kepentingan politik, kelompok tertentu atau demi uang. Cepat atau lambat, perkembangan informasi saat ini membuat perilaku media semakin politis. Media, singkatnya telah ikut berpolitik. 

Muncul sekumpulan orang bodoh pemuja politikus hasil pencitraan media massa

Muncul para pemuja politikus yang lebih nampak kelompok pemuja idol-idolan, sekumpulan manusia ikut-ikutan yang tidak bisa membedakan mana realitas berita dan mana kondisi masyarakat sebenarnya, dan mereka tidak sadar polesan berita yang beragam motif mencuci otak manusia hingga ibarat zombie politik.


Sebenarnya pemujaan atau pengkultusan politikus mudah dibentuk oleh media massa beserta tim kampanye, karena banyak orang merasa pintar berkeliaran padahal aslinya mereka dungu, irrasional. Dengan mudahnya pikirannya dimanipulasi dengan gambar-gambar informasi, TV, baliho pokoknya mudah diagitasi pokoknya dengan jargon-jargon dengan gambar tulisan tertentu mudah terbuai. Ciri-ciri di atas mirip pemuja jokowi (jokower) yang menjadi budak-budak politik di sosial media yang grasa-grusu yang  penting syahwat memuja terpenuhi.

Jaman sekarang bodoh tidak selalu berkorelasi dengan tingkat pendidikan

Sebenarnya kriteria tolol jaman sekarang tidaklah selalu berhubungan dengan tingkat pendidikan, karena tingkat pendidikan tidak selalu bebas dari hal yang namanya kibulan politik.  Tidak mengenal apakah mereka lulusan SD atau Sarjana, tetap saja kalian bisa melihat mereka berkeliaran di sosial media atau lingkungan sekitar anda menularkan kebodohannya.  Mereka telah dibutakan nalarnya sehingga tidak bisa bedakan mana berita dan mana realitas yang terjadi masyarakat.

Kesimpulan

Karena pada dasarnya banyak masyarakat hanya ikut-ikutan, bahkan lebih lucu sok politik tapi miskin wawasan.  Logikanya jika semua berita adalah fakta  kenapa tidak simpan aja otaknya di meja wartawan? Hehehehe… Yang jelas pengertian orang bodoh adalah bukannya tidak punya otak tapi membierkan otak menjadi budak pikiran pecandu dogma, doktrin, jargon-jargon yang tidak realistis.
Saya masih ingat sebuah kata-kata : 
Orang bodoh adalah   Sudah melihat hal yang benar, Sudah mendengar hal yang benar, Sudah mengetahui hal yang benar TAPI masih mempercayai DUSTA
terima kasih telah membaca artikel ini  
https://www.facebook.com/pensareindonesia