Berikut ini adalah alasan mengapa kita tidak perlu dukung Ahok, citra Ahok memang tinggi karena didukung media mainstream bahkan jika anda menulis di Kompas dan mengkritik Ahok atau Jokowi maka kemungkinan besar tulisan anda dihapus. Citra politikus dibangun di otak kalian hingga dungu seperti kerbau dicunguk hidungnya.
1. Kinerja Ahok 2014-2015 terburuk dalam sejarah DKI Jakarta
Ahok memiliki kinerja terburuk soal serapan APBD jakarta, serapan yang rendah berarti sedikit program pembangunan yang terlaksana. Tahun 2014 dan 2015 adalah tahun terburuk dimana DKI Jakarta menempati posisi paling rendah se Indonesia cuma bersaing dengan Provinsi Riau. Fakta Ahok cuma banyak bicara dan pencitraan.
2. Indikasi Korupsi
Ada yang bilang, tidak apa-apa pemimpin kafir asal tak korupsi… Nah,
ternyata Ahok diduga kuat terkait korupsi pengadaan bus Transjakarta
sebesar 1,6 Triliun dan dan Kasus RS. Sumber Waras. Koruptor-koruptor BLBI juga kebanyakan “sejenis”
dengan Ahok, yaitu konglomerat-konglomerat dari warga/golongan etnik China.
3. Boleh Minum Bir asal jangan mabok
Ahok juga mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan: boleh minum bir, asal jangan mabok.
4. Ahok Sentimen Kepada Islam (1)
Pada tanggal 9 November 2015 yang akan datang, Majelis Dzikir dan Shalawat Rasulullah pimpinan Habib Nabil Almusawa berencana untuk menggunakan area monas sebagai tempat perhelatan acara dzikir akbar mereka. Acara yang cukup rutin diadakan dan biasanya menyedot massa yang cukup banyak ini ternyata tidak mendapat restu dari sang Gubernur, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.
Padahal di Monas justru pernah digunakan pada tanggal 5 April 2015 sebagai acara Paskah yang notabene merupakan acara keagamaan kaum Nasrani (5/4/15).
5. Ahok Sentimen Kepada Islam (2)
Untuk pertama kali dalam sejarah DKI Jakarta, takbir keliling dilarang, kalau dianggap bisa membuat kemacetan, patut anda ingat bahwa acara-acara lain seperti konser, tahun baru bisa menyebabkan kemacetan, bahkan walau tidak ada momen tertentu fakta jokowi atau ahok tidak mampu mengatasi macet macet di jakarta.
6. Ahok Sentimen Kepada Islam (3)
Pada lebaran yang lalu, situasi yang adem tiba-tiba menjadi panas
kembali dengan wacana Ahok untuk menghapuskan cuti bersama saat lebaran…
Apa dia tidak izinkan umat Islam berlebaran dan silaturahmi…? Kenapa
pula tidak dicontohkan melalui pencabutan cuti bersama natal/tahun
baru…? Mengapa hanya dan harus lebaran yang dibidik? (25 September 2014)
7. Ahok sentimen kepada Islam (4)
Ahok mendukung penghancuran simbol-simbol Islam di DKI Jakarta seperti merubuhkan Masjid Baitul Arif di jatinegara, Jakarta Timur dan menghancurkan masjid bersejarah Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki(TIM)
8. Ahok Dukung Legalisasi Pelacuran dan Pemasyarakatan Kondom
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyatakan setuju dengan legalisasi lokalisasi prostitusi. Namun tidak ada aturan yang mendasari kebijakan itu.
"Saya
setuju (legalisasi kawasan prostitusi) tapi enggak bisa, enggak ada
dasar konstitusinya. Kita kan bangsa yang munafik, enggak boleh," kata
Basuki, di Balai Kota, Jumat (12/2/2016).
Bersama Menteri Kesehatan adalah Ahok pendukung sosialisasi pekan kondom nasional. Kenapa mesti sosialisai kondom yang bisa menjerumuskan ke free sex, bukan mensosialisasi agar jangan melakukan free sex yang bisa menyebabkan penyakit kelamin dan AIDS?
9. Ucapan Kata-kata Kotor
Ahok sudah terkenal dengan kata-kata kotor dan tidak sopan yang pantas diucapkan sebagai pejabat. Umpatan dan kata-kata kotor bisa mencerminkan kepribadian kotor sang pengumpat serta kesombongan bagi pelakunya. Ahok tidak pantas jadi gubernur secara attitude yang sangat buruk.
10. Ahok Pendukung Penghapusan Kolom Agama di KTP
Tak kalah parahnya adalah Ahok mendukung wacana penghapusan Kolom Agama di KTP. Perlu anda ketahui yang anti agama atau sekuler dalam bernegara itu lebih dekat ke komunis dan liberal.
TAMBAHAN TANGGAPA DARI Zeng Wei Jian adalah aktivis Tionghoa yang kritis dan komit menyuarakan ketidak adilan dan penindasan (*mc)
Terlalu riskan bila Ahok dipilih kembali. Ahok terlalu gaduh. Dia dihujani batu. Dukungan sejuta KTP ternyata fiktif dan tidak membuktikan apa pun. Survei-survei sarat rekayasa. Manipulatif. Bila para taipan dan pencari nasi bungkus memaksakan diri, Jakarta bisa dilanda instabilitas di berbagai sektor. Paling cocok, Ahok diposisikan sebagai Kepala PU atau penjaga kebersihan kota.
Resistensi warga sulit padam. Arogansi dan kasar rupanya adalah karakter Ahok. Inherent dan ingrained dalam struktur genetiknya. Belum pernah ada seorang gubernur, kecuali Ahok, yang punya musuh satu republik.
Setiap hari ada saja yang diserang Ahok. Ya politisi, parpol sebesar PDI-P diultimatum, warga miskin dicaci-maki. Historian dikatain goblok. TNI dibuat tersinggung di masalah sampah Bantar Gebang. Pengusaha hotel dipermalukan di depan publik. Ahok diam saja sewaktu mantan bosnya, Bang Yos dibully Ahoker. Lembaga negara dicemooh dengan istilah ngaco. Ahok terlalu sering mengabaikan aturan; serapan anggaran rendah. Cuma Ahok yang sanggup usir wartawan dan membiarkan Ahmadiyah beribadah di Bukit Duri. Sampai penggusuran Pasar Ikan, LBH Jakarta merilis laporan Ahok menggusur 8.145 KK dan memberangus 6.283 unit usaha di 113 titik penggusuran.
Kesuksesan kerja Ahok hanya ada di dunia fantasi. Faktanya, Pertumbuhan Ekonomi turun 0,16%. Inflasi naik 0,95%. Gini Rasio meningkat 7,20%. Penduduk Miskin bertambah 3,72%. Akuntabilitas Kinerja Provinsi hanya 58,57 (hanya urutan 18 dari 34 Provinsi). Realisasi Pendapatan Daerah cuma 66,8% (urutan buncit dari semua provinsi). Penyerapan Anggaran hanya 59,32 % (terburuk se-Indonesia). Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM): hanya 0,31 (nomor 1 dari bawah dari 34 provinsi se-Indonesia).
Hebatnya, Ahok bisa lolos dari berbagai skandal korupsi; Pengadaan Bus Trans Jakarta, Pengadaan UPS, Pembelian Tanah Sumber Waras, Tukar Guling Lahan Taman BMW, Sindikasi Reklamasi Pulau dan pembelian lahan Cengkareng Barat.
Kedatangan Ahok ditolak di berbagai tempat; Koja, Kalideres, Kapuk Muara dan Penjaringan. Ketua RT/RW se-Jakarta menyatakan “Bukan Teman Ahok”. Saya sulit membayangkan efektifitas kerja seorang kepala daerah bila kedatangannya ditolak warga. Bahkan untuk acara sederhana seperti peresmian taman, Ahok harus lari tunggang langgang. Polres mesti kerahkan 500 personil, belum lagi pengerahan prajurit TNI dan Satpol PP. Plus bonus korban timpukan batu dan dua pelajar PSKD ditangkap. Ahok sungguh high cost.
Economically, Ahok juga high cost. Relawan Andreas bilang Podomoro alirkan dana 30 milyar kepada Teman Ahok untuk ngepul sejuta KTP. Belum lagi donasi teri dari ‘warga kena tipu’ yang sumbang jam dinding, printer, cetak kaos, ball poin dan sebagainya. Teman Ahok bikin booth di banyak mall. Saya kira itu ada biayanya. Pasti ada budget bayar tim Cyrus Network, beli slot acara di MetroTV, bayar media, bayar upah buzzer dan pembully. At the end, Ahok memilih jalur partai politik. Jadi, seluruh “perjuangan” relawan-bayaran
dan donatur menguap begitu saja.
Politically, Ahok ngga kalah high-costly. Dia hendak mendelegitimasi partai politik. Tanpa partai politik, tidak ada demokrasi. Semua politisi, kecuali Ahok dan teman-temannya,
adalah politisi busuk, pencari panggung dan koruptor. Pengumpulan KTP
dan booth-booth (yang kerap dicaci maki pengunjung mall) merupakan
bentuk dari kampanye terselubung dan “ilegal”. In another parlance, Ahok
mencuri start.
Manuver “kutu loncat” Ahok bukan ciri pejuang politik. Di situ, Ahok jadi figur tanpa loyalitas. Statemen blak-blakan seperti “Tuhan aja gua lawan” cuma bikin Ahok tampak gak mutu. Dia tegas bilang ibunya pun bakal dia usir kalo bikin susah. Bahkan Malin Kundang tidak berpikir mengusir mamanya sendiri.
Socially, Ahok menjadi akar ketegangan rasial dan primordialisme.
Sentimen anti Tionghoa naik. Ahok memicu over-confident golongan
minoritas (etnis dan agama) untuk ngebully dan mencaci maki opponent.
Berbeda dengan kader partai, Ahoker bersifat liar tak terkendali. Tak
seperti kader partai, para free men Ahoker ini tidak pernah mengikuti
rangkaian LDK, kurpol atau diklat terstruktur dan sistematis. Gerakan
dan opini mereka sepenuhnya didasari sentimen like & dislike.
Seluruh faktor di atas menjadikan Ahok berpotensi menciptakan konflik horisontal dan vertikal. Kondisi semacam ini sangat tidak kondusif bagi bisnis. Secara praktis, Ahok bikin Jakarta lebih macet dan rentan banjir. Kegiatan ekonomi mikro jadi terganggu. Produktifitas salesmen menurun. Entah berapa banyak agenda meeting harus direscheduling akibat pembangunan enam jalan tol dan betonisasi bantaran sungai. Para taipan hendaknya berpikir ulang untuk membacking Ahok. He’s too costly.
Terlalu riskan bila Ahok dipilih kembali. Ahok terlalu gaduh. Dia dihujani batu. Dukungan sejuta KTP ternyata fiktif dan tidak membuktikan apa pun. Survei-survei sarat rekayasa. Manipulatif. Bila para taipan dan pencari nasi bungkus memaksakan diri, Jakarta bisa dilanda instabilitas di berbagai sektor. Paling cocok, Ahok diposisikan sebagai Kepala PU atau penjaga kebersihan kota.
Resistensi warga sulit padam. Arogansi dan kasar rupanya adalah karakter Ahok. Inherent dan ingrained dalam struktur genetiknya. Belum pernah ada seorang gubernur, kecuali Ahok, yang punya musuh satu republik.
Setiap hari ada saja yang diserang Ahok. Ya politisi, parpol sebesar PDI-P diultimatum, warga miskin dicaci-maki. Historian dikatain goblok. TNI dibuat tersinggung di masalah sampah Bantar Gebang. Pengusaha hotel dipermalukan di depan publik. Ahok diam saja sewaktu mantan bosnya, Bang Yos dibully Ahoker. Lembaga negara dicemooh dengan istilah ngaco. Ahok terlalu sering mengabaikan aturan; serapan anggaran rendah. Cuma Ahok yang sanggup usir wartawan dan membiarkan Ahmadiyah beribadah di Bukit Duri. Sampai penggusuran Pasar Ikan, LBH Jakarta merilis laporan Ahok menggusur 8.145 KK dan memberangus 6.283 unit usaha di 113 titik penggusuran.
Kesuksesan kerja Ahok hanya ada di dunia fantasi. Faktanya, Pertumbuhan Ekonomi turun 0,16%. Inflasi naik 0,95%. Gini Rasio meningkat 7,20%. Penduduk Miskin bertambah 3,72%. Akuntabilitas Kinerja Provinsi hanya 58,57 (hanya urutan 18 dari 34 Provinsi). Realisasi Pendapatan Daerah cuma 66,8% (urutan buncit dari semua provinsi). Penyerapan Anggaran hanya 59,32 % (terburuk se-Indonesia). Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM): hanya 0,31 (nomor 1 dari bawah dari 34 provinsi se-Indonesia).
Hebatnya, Ahok bisa lolos dari berbagai skandal korupsi; Pengadaan Bus Trans Jakarta, Pengadaan UPS, Pembelian Tanah Sumber Waras, Tukar Guling Lahan Taman BMW, Sindikasi Reklamasi Pulau dan pembelian lahan Cengkareng Barat.
Kedatangan Ahok ditolak di berbagai tempat; Koja, Kalideres, Kapuk Muara dan Penjaringan. Ketua RT/RW se-Jakarta menyatakan “Bukan Teman Ahok”. Saya sulit membayangkan efektifitas kerja seorang kepala daerah bila kedatangannya ditolak warga. Bahkan untuk acara sederhana seperti peresmian taman, Ahok harus lari tunggang langgang. Polres mesti kerahkan 500 personil, belum lagi pengerahan prajurit TNI dan Satpol PP. Plus bonus korban timpukan batu dan dua pelajar PSKD ditangkap. Ahok sungguh high cost.
Economically, Ahok juga high cost. Relawan Andreas bilang Podomoro alirkan dana 30 milyar kepada Teman Ahok untuk ngepul sejuta KTP. Belum lagi donasi teri dari ‘warga kena tipu’ yang sumbang jam dinding, printer, cetak kaos, ball poin dan sebagainya. Teman Ahok bikin booth di banyak mall. Saya kira itu ada biayanya. Pasti ada budget bayar tim Cyrus Network, beli slot acara di MetroTV, bayar media, bayar upah buzzer dan pembully. At the end, Ahok memilih jalur partai politik. Jadi, seluruh “perjuangan” relawan-bayaran
Politically, Ahok ngga kalah high-costly. Dia hendak mendelegitimasi
Manuver “kutu loncat” Ahok bukan ciri pejuang politik. Di situ, Ahok jadi figur tanpa loyalitas. Statemen blak-blakan seperti “Tuhan aja gua lawan” cuma bikin Ahok tampak gak mutu. Dia tegas bilang ibunya pun bakal dia usir kalo bikin susah. Bahkan Malin Kundang tidak berpikir mengusir mamanya sendiri.
Socially, Ahok menjadi akar ketegangan rasial dan primordialisme.
Seluruh faktor di atas menjadikan Ahok berpotensi menciptakan konflik horisontal dan vertikal. Kondisi semacam ini sangat tidak kondusif bagi bisnis. Secara praktis, Ahok bikin Jakarta lebih macet dan rentan banjir. Kegiatan ekonomi mikro jadi terganggu. Produktifitas salesmen menurun. Entah berapa banyak agenda meeting harus direscheduling akibat pembangunan enam jalan tol dan betonisasi bantaran sungai. Para taipan hendaknya berpikir ulang untuk membacking Ahok. He’s too costly.
0 komentar:
Posting Komentar