Syiah Pembunuh Husein, ra
Setelah wafatnya Mu’awiyah a pada 60 H yang sebelumnya beliau menunjuk Yazid bin Mu’awiyah untuk menjadi pemimpin yang niat beliau (dengan penunjukan tersebut) agar tidak terjadi lagi perpecahan di antara kaum muslimin dalam masalah kekuasaan. Maka berpalinglah para utusan ahli Iraq kepada Husainbin Ali d dengan penuh antusias dan simpati. Lalu mereka berkata kepada Husain,
“Kami telah menahan diri-diri kami demi engkau, dan kami juga tidak mengikuti shalat Jum’at bersama penguasa yang ada, maka datanglah engkau kepada kami.” (Târîkh ath-Thabarî 5/347)
Mereka juga berkata:
“Bismillahirrahmanirrahim, untuk Husain bin Ali, dari syi›ah (pengikut) bapaknya Amirul Mukminin. Amma ba’du. Sesungguhnya orang-orang menunggumu dan tidak ada pendapat mereka kepada selainmu, maka bersegeralah! Bersegeralah!”
Penduduk Kufah menulis kepada Husain, mereka berkata:
“Kami tidak memiliki imam, maka datanglah, semoga Allah akan mengumpulkan kami denganmu di atas al-haq.” (Lihat Târîkh ath-Thabarî 3/277–278)
Di bawah tekanan mereka, terpaksa Husain memutuskan untuk mengirim anak pamannya, Muslim bin Aqil, untuk mengetahui keadaan yang terjadi. Maka keluarlah Muslim pada bulan Syawal tahun 60 H.
Tatkala penduduk Iraq mengetahui kedatangan Muslim bin Aqil maka mereka datang kepadanya. Mulailah mereka berbai’at kepada Husain. Disebutkan bahwa jumlah mereka yang berbai’at sebanyak dua belas ribu orang. Kemudian penduduk Kufah pun mengirim utusan untuk membai’at Husain dan semuanya berjalan dengan baik.
Akan tetapi, sayangnya, Husain a tertipu oleh pengkhianatan mereka. Husain pergi menemui mereka walaupun sudah diperingatkan oleh para sahabat Nabi dan orang-orang yang terdekat dengan beliau agar tidak keluar menemui mereka; hal itu karena mereka telah mengetahui pengkhianatan yang selama ini
telah dilakukan oleh kaum Syi’ah Iraq. Sampai-sampai Ibnu Abbas d berkata kepada Husain,
telah dilakukan oleh kaum Syi’ah Iraq. Sampai-sampai Ibnu Abbas d berkata kepada Husain,
“Apakah engkau akan pergi ke kaum (golongan) yang telah membunuh pemimpin mereka, merampas negeri mereka, dan memusnahkan musuh mereka, jika mereka telah melakukan hal itu maka pergilah kepada mereka. Akan tetapi, jika mereka mengajakmu ke sana, sedang penguasa mereka berkuasa terhadap mereka, dan para pegawainya menguasai negeri mereka, maka mereka hanya mengajak Anda menuju medan perang dan peperangan, dan saya tidak merasa aman (kalau-kalau) mereka akan mengkhianati, menipu, membangkang, meninggalkan, dan berbalik memerangi kamu sehingga mereka menjadi orang yang paling keras permusuhannya kepadamu.” (al-Kâmil fit Târîkh 4/37)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :
“Tatkala Husain a hendak keluar kepada penduduk Iraq tatkala mereka mereka mengirim surat yang banyak kepadanya, maka para pemuka ahli ilmu dan agama seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits bin Hisyam mengisyaratkan kepadanya agar tidak keluar.” (Majmû’ Fatâwâ 4/316)
Dengan jelas tampaklah pengkhianatan Syi’ah di Kufah, walaupun mereka sendiri yang telah mengharapkan akan kedatangan Husain. Hal itu sebelum Husain sampai kepada mereka. Maka penguasa Bani Umayyah, Ubaidillah bin Ziyad, ketika mengetahui sepak terjang Muslim bin Aqil yang telah membai’at Husain dan sekarang berada di Kufah, ia segera mendatangi Muslim dan langsung membunuhnya, sekaligus terbunuh pula tuan rumah yang menjamunya, Hani bin Urwah al-Muradi. Dan kaum Syi’ah Kufah tidak memberikan bantuan apa-apa, bahkan mereka mengingkari janji mereka terhadap Husain, ra, hal itu mereka lakukan karena Ubaidillah bin Ziyad memberikan sejumlah uang kepada mereka.
Ketika Husain, ra keluar bersama keluarga dan beberapa orang pengikutnya yang berjumlah sekitar 70 orang laki-laki dan langkah itu ditempuh setelah adanya perjanjian-perjanjian dan kesepakatan, kemudian masuklah Ibnu Ziyad untuk menghancurkannya di medan peperangan, maka terbunuhlah al-Husain dan terbunuh pula semua sahabatnya, termasuk tiga saudara Husain sendiri: Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib, Umar bin Ali bin Abi Thalib, dan Utsman bin Ali bin Abi Thalib, ketiga anak Ali bin Abi Thalib selain Hasan, Husain, dan Muhammad bin Hanafiyyah.
Tanggal 5 Syawal 60 Hijriah, Muslim bin Aqil, sepupu Imam Husein, masuk ke kota Kufah dengan tujuan untuk menerima baiat atau janji setia dari rakyat kota itu kepada Imam Husein as, cucu Rasulullah Saw. Sebelumnya, rakyat Kufah mengirimkan ribuan surat kepada Imam Husain di Madinah untuk meminta agar beliau datang ke Kufah dan memimpin revolusi menentang pemerintahan Bani Umayah yang despotik.
Pada awal kedatangan Muslim bin Aqil, 18 ribu penduduk kota itu menyampaikan janji setia mereka kepada Imam Husein dan Muslim pun mengirimkan kabar kepada Imem Husain bawah rakyat Kufah telah siap mendukung beliau. Namun, tak lama kemudian, atas represi kejam dari pemerintahan Bani Umayah, rakyat Kufah mundur dan berbalik menentang Imam Husein, bahkan bergabung dengan pasukan Ibnu Ziyad yang membantai Imam Husain as di Padang Karbala.(IRIB Indonesia)
Syimr bin Dziljausyan Syiah Ali memenggal Leher cucu Rasulullah
Syimr bin Dziljausyan pernah bergabung dengan Imam Ali bin Abi Thalib as di perang Shiffin melawan Muawiyah bin Abi Sofyan. Namun dengan bergulirnya waktu ia mengalami perubahan dan kemrosotan pemikiran dan keyakinan. Akhirnya ia tergolong sebagai orang yang memerangi keluarga Rasulullah Saw. Dalam memerangi Imam Husein as ia berperan sebagai komandan sebelah kiri pasukan Kufah dibawah komando Umar bin Saad. Dialah yang menawarkan surat keamanan kepada Abu Fadhl Abbas agar meninggalkan Imam Husein as. Dialah yang duduk di atas badan Imam Husein as dan menyembelih leher Imam Husein as.
Allamah Majlisi dalam bukunya meriwayatkan, di pagi hari Asyura ketika api berkobar di kubangan sekitar tenda Imam Husein, Syimr berteriak, “Hai Husein! Terburu-burukah kau menyambut api sebelum api neraka menyambutmu?” Imam Husein as berkata, “Siapakah orang itu, kelihatannya ia Syimr? Dijawab, “Iya” Imam Husein as berkata, “Hai anak pengembala kambing! Kaulah yang lebih layak mendapat api neraka.”
Setelah peristiwa Karbala dan tercatat sebagai pemenggal kepala Imam Husein as, Syimr bin Dziljausyan dikejar-kejar oleh pasukan Mukhtar Tsaqafi dan ditangkap kemudian mendapat hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya terhadap keluarga Rasulullah Saw di Karbala. (Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 45, hal. 4, Muassasah al-Wafa, Beirut Lebanon, 1983)
Tanggal 5 Syawal 60 Hijriah, Muslim bin Aqil, sepupu Imam Husein, masuk ke kota Kufah dengan tujuan untuk menerima baiat atau janji setia dari rakyat kota itu kepada Imam Husein as, cucu Rasulullah Saw. Sebelumnya, rakyat Kufah mengirimkan ribuan surat kepada Imam Husain di Madinah untuk meminta agar beliau datang ke Kufah dan memimpin revolusi menentang pemerintahan Bani Umayah yang despotik.
Pada awal kedatangan Muslim bin Aqil, 18 ribu penduduk kota itu menyampaikan janji setia mereka kepada Imam Husein dan Muslim pun mengirimkan kabar kepada Imem Husain bawah rakyat Kufah telah siap mendukung beliau. Namun, tak lama kemudian, atas represi kejam dari pemerintahan Bani Umayah, rakyat Kufah mundur dan berbalik menentang Imam Husein, bahkan bergabung dengan pasukan Ibnu Ziyad yang membantai Imam Husain as di Padang Karbala.(IRIB Indonesia)
Syimr bin Dziljausyan Syiah Ali memenggal Leher cucu Rasulullah
Syimr bin Dziljausyan pernah bergabung dengan Imam Ali bin Abi Thalib as di perang Shiffin melawan Muawiyah bin Abi Sofyan. Namun dengan bergulirnya waktu ia mengalami perubahan dan kemrosotan pemikiran dan keyakinan. Akhirnya ia tergolong sebagai orang yang memerangi keluarga Rasulullah Saw. Dalam memerangi Imam Husein as ia berperan sebagai komandan sebelah kiri pasukan Kufah dibawah komando Umar bin Saad. Dialah yang menawarkan surat keamanan kepada Abu Fadhl Abbas agar meninggalkan Imam Husein as. Dialah yang duduk di atas badan Imam Husein as dan menyembelih leher Imam Husein as.
Allamah Majlisi dalam bukunya meriwayatkan, di pagi hari Asyura ketika api berkobar di kubangan sekitar tenda Imam Husein, Syimr berteriak, “Hai Husein! Terburu-burukah kau menyambut api sebelum api neraka menyambutmu?” Imam Husein as berkata, “Siapakah orang itu, kelihatannya ia Syimr? Dijawab, “Iya” Imam Husein as berkata, “Hai anak pengembala kambing! Kaulah yang lebih layak mendapat api neraka.”
Setelah peristiwa Karbala dan tercatat sebagai pemenggal kepala Imam Husein as, Syimr bin Dziljausyan dikejar-kejar oleh pasukan Mukhtar Tsaqafi dan ditangkap kemudian mendapat hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya terhadap keluarga Rasulullah Saw di Karbala. (Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 45, hal. 4, Muassasah al-Wafa, Beirut Lebanon, 1983)
Bahkan do’anya atas mereka (syi’ah) sangat terkenal, beliau mengatakan sebelum wafatnya,
“Ya Allah, apabila engkau memberikan mereka kenikmatan, maka cerai-beraikanlah mereka, jadikanlah mereka menempuh jalan yang berbeda-beda, dan janganlah restui pemimpin mereka selamanya, karena mereka telah mengundang kami untuk menolong kami, namun ternyata kemudian memusuhi kami dan membunuh kami.”
(al-Irsyâd hlm. 241 dan I’lâm al-Wara li ath Thibrisî hlm. 949)

0 komentar:
Posting Komentar