Kamis, 28 Mei 2015

Biksu "Drakula" Burma Dan Junta Militer Punya Kesamaan Visi Untuk Membantai dan Mengusir Rohingya

 
PENSARE - Rohingya
Rohingya adalah suku  tanpa kewarganegaraan berjumlah sekitar 800.000, terutama di Burma barat. Meskipun banyak tinggal di sana selama ratusan tahun beberapa generasi, mereka tidak termasuk dalam daftar 135 kelompok etnis resmi sebagaimana diatur oleh mantan diktator Jenderal Ne Win di tahun 1982 UU Kewarganegaraan. Posisi resmi pemerintah adalah bahwa Rohingya adalah imigran ilegal dari negara tetangga Bengali Bangladesh yang mengeksploitasi 300 km perbatasan dan  dianggap mencuri tanah. Dalam kurun waktu yang panjang rohingya telah menghadapi pembatasan tentang perjalanan, perkawinan dan reproduksi (kelahiran).


Biksu Sebenarnya Punya Konflik Dengan Junta Militer  Burma. 


Biksu Budha Birma sebenarnya sudah lama melakukan berbagai aksi pembangkangan kepada junta militer,  para agamawan yang mirip peminta-minta ini sejak tahun 2007 telah melakukan aksi pro-demokrasi melawan rezim militer.  Memang selama beberapa dekade ini junta militer Birma telah mengatur  teror, dan memenuhi perbedaan pendapat dengan intimidasi, penahanan dan pembunuhan. Hal ini karena kisah kekejaman militer terhadap biksu Buddha Burma yang ditindas kemudian mesra  mengatur pembersihan etnik  rohingya adalah suatu cerita sangat menarik.

Si Tertindas Berubah Jadi Drakula Haus Darah
Fakta menarik bahwa ajaran Budha cenderung menarik diri aspek duniawi, tapi itu pengecualian dari Biksu Birma yang memang sering melakukan unjuk kekuatan dibalik penampilan yang cenderung sebagai pengemis.  Kerusuhan bermula dari propaganda pemerintah Birma dan biksu Buddha dengan tuduhan  muslim rohingya berupaya meng-Islamisasi Burma.  Tapi itu berlebihan karena muslim Rohingya sudah ratusan tahun  mengalami penindasan dan pengucilan pemerintah wilayah itu.  Jadi ibarat rohingya bersifat endemik dan hanya meliputi di wilayah tertentu saja di Burma. 


aksi demo anti pemerintah oleh biksu Burma - courtessy www.abc.net.au

Pemicu lain  yaitu  tuduhan muslim rohingya mengambil wanita Budha sebagai istri bagi anak-anaknya dan tuduhan pemerkosaan serta pembunuhan seorang wanita Buddha muda, yang dituduh adalah tiga pria Muslim, dan kemudian diikuti aksi pembalasan pembantaian 10 peziarah Muslim di dalam bus, dan secara sporadis  pembunuhan serta pembakaran mesjid dan rumah terjadi bulan-bulan berikutnya.


 courtessy : crescent-foundation.org
courtessy : quazoo.com

dua Kubu yang Bermusuhan kini Bekerja Sama Dalam Operasi Pembersihan Etnik Rohingya
 Hal menarik dua kubu tidak akur bekerjasama karena memiliki misi yang sama yaitu menghapus keberadaan suku Rohingya melakukan aksi teror berdarah.  Para biksu Buddha,  pejabat pemerintah mengorganisir diri untuk mengubah secara permanen demografi etnis dari negara tersebut dengan menghapus setiap jejak dari Rohingya.  Mereka memiliki strategi dan melakukan semua hal ini sebagai operasi direncanakan dan dirancang dengan baik.  Dan hasilnya dapat dilihat sekarang bahwa Rohingya diusir dari Burma.


 Biksu Drakula berlatih menggunakan senjata?
Biksu  atau tentara jadi biksu? courtessy : metatv.org

 Tidak kesampingkan Pemerintah Burma terlibat "dalam kampanye pembersihan etnis  Rohingya, karena memang sejak dulu pemerintah Burma tidak mengakui etnik Rohingya sebagai warga negara.  Aksi pemerintah berlanjut hari melalui penolakan bantuan dan pembatasan gerakan warga rohingya.  Dalam beberapa laporan bagaimana otoritas pemerintah menghancurkan masjid, dilakukan penangkapan massal kekerasan dan memblokir bantuan untuk pengungsi Muslim saat peristiwa tahun lalu.  Karena pemerintah Birma tidak mau dianggap tangannya penuh darah Rohingya maka dibuat propaganda agar biksu budha yang memang  anti Islam melakukan aksi kekerasan itu.  Jadi sangat tepat alasan ini karena pemerintah Birma tidak melakukan reaksi untuk penyelamatan dan penertiban masyarakat, malah lebih berkesan “pembiaran”.
aksi Islamophobia Xenophobia oleh Biksu Burma - Courtessy : refugeeresettlementwatch.wordpress.com

Pemerintah Burma dan Biksu Budha telah terkena tuduhan "pembersihan etnis" dan "kejahatan terhadap kemanusiaan" oleh Human Rights Watch (HRW) merilis laporannya ke kekerasan sektarian yang melanda negara Arakan barat negara itu tahun lalu. Setidaknya ribuan orang tewas dan lebih dari 125.000 kehilangan tempat tinggal sebagai akibat pembakaran massal, penjarahan dan pembunuhan berdarah dingin meletus antara etnis Rakhine Buddha terhadap  Muslim Rohingya.  HRW menuduh kelompok Rakhine menghasut pertumpahan darah.

0 komentar: