Budak
politik semacam jokower (pemuja jokowi) bukanlah hal langka anda temui
terutama di sosial media, mereka di bayar atau tidak di bayar dengan
semangat militan melampiaskan syahwat memuja jokowi. Lalu apa yang
membedakan dengan orang umum? Yaitu mereka lugu, tidak merasa pikiran
bawah sadar mereka telah dimanipulasi sedemikian rupa sehingga lebih pas
di katakan “kerbau dungu sok politik”.
Mereka sibuk mempromosikan idolanya dan membanggakan idola tanpa tahu bahwa dirinya sendiri adalah bagian peng”kerbau”an opini massa. Ciri-ciri mereka seperti orang yang sudah di cuci otaknya, meradang jika ada yang mengkritik politikus dukungannya, cara berpikir jokower cenderung tidak realistis tidak mau tahu realitas sesungguhnya yang terjadi di masyarakat sesungguhnya, yang penting syahwat memuja politikus tersalurkan karena otak sudah didikte apa kata opini mass media.
Mereka sibuk mempromosikan idolanya dan membanggakan idola tanpa tahu bahwa dirinya sendiri adalah bagian peng”kerbau”an opini massa. Ciri-ciri mereka seperti orang yang sudah di cuci otaknya, meradang jika ada yang mengkritik politikus dukungannya, cara berpikir jokower cenderung tidak realistis tidak mau tahu realitas sesungguhnya yang terjadi di masyarakat sesungguhnya, yang penting syahwat memuja politikus tersalurkan karena otak sudah didikte apa kata opini mass media.
Korban Trik Propaganda
Masyarakat umum cenderung tidak sadar para master propaganda menggunakan teknik tertentu untuk memuji, mendiskreditkan, atau bahkan sengaja menghina figur jokowi misal kurus, kerempeng, wong ndeso, jokowi dijegal, agar kalian iba, bukankah kalian secara naluri membela yang dianggap orang dianiya, padahal kalianlah yang mungkin lemah karena sedang dimanipulasi. Contoh lain adalah acara-acara idol-idol TV, bagaimana acara diramu sedemikian rupa mengaduk-ngaduk perasaan pemirsa sehngga rela mengirim SMS premium untuk idolanya. Sudah dimainkan perasaan disuruh kirim sms premium lagi.
Penggunaan portal media, sosial media, dimana setiap hari dibentuk opini tentang tentang figur seorang Jokowi yang merakyat, masuk selokan, sampai mau pipis pun diberitakan. Karena sering diberitakan maka akan menjadi populer karena populer tentu ada penggemarnya. Nah! penggemar-penggemar inilah yang mungkin miskin trik media menjadi politisi dadakan padahal tidak lebih budak politik.
Pada intinya penguasaan media akan membawa opini umum dapat mengalahkan fakta realitas sebenarnya yang terjadi di masyarakat di pikiran orang-orang dungu. Dengan hanya hanya foto-foto blusukan yang mungkin tidak menyelesaikan problem masyarakat tapi bisa membuat orang dungu berdecak kagum.
Akibat Lugu
Tujuan propaganda modern tidak lagi memodifikasi ide-ide untuk memprovokasi agar masyarakat patuh terhadap doktrin secara langsung, namun sekarang memanfaatkan media massa sebesar-sebesarnya untuk mencuci otak di rumah mereka masing, dan mereka terus digempur informasi sehingga membuat individu tidak mampu memproses fakta sesungguhnya. Bagi kalian yang pernah diskusi dengan jokower pasti akan heran dengan komentar-komentar mereka seperti kekanak-kanakan, irrasional, dan maaf seperti kurang terpelajar dalam berkata-kata (suka membulli tapi tidak suka dikritik).
Kerbau-kerbau ini berpikir Indonesia milik Jokowi ?
(photo credit : facebook.com)
Masih banyak yang masyarakat yang wawasannya belum terbuka, yang belum mengetahui cara kerja media yang penuh motif dengan teknik iklan, berita pencitraan berlebihan dimakan mentah-mentah dan dianggap suatu kebenaran. Di Televisi Ditampilkan sosok merakyat jokowi dengan label rakyat biasa, wong cilik (mana ada jokowi rakyat biasa atau wong cilik, dia pejabat kok dengan asset saja milyaran) membuat pemirsa TV terkesima dan berdecak kagum padahal sebenarnya sudah diatur. Ditambah pula acara – acara talk show yang menampilkan pembicara – pembicara untuk membahas figur atau bahkan ditampilkan figur yang anti agar kalian membela orang yang dianggap dicela, padahal acaranya mungkin diatur.
Akibat Tekanan Hidup / Kemiskinan
Tidak sulit menemukan orang tiap hari di sosial media yang postingannya militan menjilat politikus, bahkan walau yang diposting bertentangan dengan keadaan dan realita masyarakat. Orang jenis ini yang dibayar untuk memposting dan menjilat tuannya asal diberi uang dan makan oleh tuannya. Inilah jenis pelacur sosial media.
Primordialisme Dan Agama
Primordialisme Dan Agama
Ini tidak bermaksud rasis tapi bagian ini adalah pelengkap dari fanatisme pemujaan politikus yaitu primordialisme dan agama, karena jika anda diskusi dengan jokower di sosial media kemungkinan besar dia Islamophobia, Islam liberal, syiah, kristen, china, bahkan terkadang jokower menampilkan nama sok Islam atau pribumi. Mereka anda bisa temui di banyak forum-forum diskusi di sosial media. Yang terakhir masalah kedaerahan suku (primordialisme) karena merasa satu daerah maka didukung habis-habisan, tapi itu wajar. Namun primordialisme buta itu tetap bodoh!
Catatan : Jokowi diusung oleh PDIP Perjuangan yang merupakan partai berlatar belakang Partai Kristen(Parkrindo) dan Partai Nasionalis, dan sekarang PDIP bersama partai nasdem, pkb, dll.
Catatan : Jokowi diusung oleh PDIP Perjuangan yang merupakan partai berlatar belakang Partai Kristen(Parkrindo) dan Partai Nasionalis, dan sekarang PDIP bersama partai nasdem, pkb, dll.
terima kasih telah membaca artikel ini, kami juga ada di facebook.




