| Biar bodoh yang penting syahwat kebencian terpenuhi. |
Jika di forum sosial media, anda menemukan komentar yang sangat berlebihan membenci Saudi dan mengumbar kata Wahhabi maka kemungkinan besar dia seorang syiah atau pecandu syirik. Lalu mengapa mereka (syiah) sangat membenci Arab Saudi dan Ibn Wahhab?
Kekalahan Kerajaan Majusi Persia Oleh bangsa Arab
Tak dipungkiri penaklukan Khalifah Islam sudah menjadi bagian sejarah dendam orang Majusi Persia. Pada tahun 14H adalah tahun pokok dan asas dari kebencian kaum Rafidhah terhadap Islam dan kaum muslimin, karena pada tahun ini meletus perang Qadisiyyah yang berakibat takluknya kerajaan Persia Majusi, nenek moyang kaum Rafidhah. Pada saat itu kaum muslimin dibawah kepemimpinan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Pada tahun 16 H. Kaum muslimin berhasil menaklukkan ibu kota kekaisaran Persia, Mada’in. Dengan ini hancurlah kerajaan Persia. Kejadiaan ini masih disesali oleh kaum Rafidhah hingga saat ini.
Trik adu domba dan bertaqiyah pura-pura sebagai orang Islam adalah senjata syiah untuk menghancurkan umat Islam dari dalam. Bersama khawarij, syiah telah menghasilkan sejarah berdarah seperti perang Unta, Siffin, dan terbunuhnya Umar, ra, Utsman, ra, Ali, ra, Husein, ra. Dendam itu terus dipompa sampai sekarang, dan kebencian syiah seperti Darah Umat Islam halal ditumpahkan.
Fakta Sejarah Jaman Nabi dan Rasul Kaum Kafirun Musyrikin adalah Penentang Ajaran Tauhid
Sudah jamak para para penyampai tauhid itu di musuhi, bahkan menjadi bagian sejarah panjang para nabi, rasul, ulama mendapat tantangan dalam dakwah tauhid tapi manusia malas membaca sejarah. Dan tidak ada satupun nabi, rasul yang tidak mendapat tantangan hebat dalam dakwah tauhid. Beliau-beliau akan selalu di fitnah dengan mulut-mulut kebencian para munafik. Bahkan rasulullah Nabi Muhammad SAW yang sebelumnya digelari Al-amin mendapat gelar Majnun (orang gila) dari kaum munafikun. Nah sejarah berlanjut Kaum Syiah adalah kaum musyrik rangking satu sesatnya sekarang.
Pecandu sirik dan Bid'ah Jengkel dibongkar kesesatannya
Imam Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab telah membuat syiah, para sufi, tarekat, kebatinan jengkel karena beliau banyak membongkar kesyirikan mereka dengan mengambil dalil Al-Qur'an dam Sunnah shahih, pemahaman sahabat, ulama. Karena keberaniaannya beliau banyak dimusuhi dan difitnah dari kalangan munafikun terutama orang-orang syiah. Beberapa tuduhan seperti :
1. Tuduhan Ibn Wahhab suka mengkafirkan padahal Syiah sendiri adalah Master No. 1 Suka Mengkafirkan (syiah memang doyan maling teriak maling)
2. Tuduhan membuat madzhab baru yaitu Wahhabiyah (Wahhabi) yang semestinya jika memang beliau pernah membuat madzhab disebut Muhammadiyah, karena nama beliau Muhammad. Namun mereka menisbahkan kepada Asmaul Husna yaitu Al-Wahhab. Padahal Syaikh tidak pernah dalam sejarah menamakan dirinya sebagai madzhab atau aliran tapi sebuah strategi pemurnian Islam tanpa asesori bid’ah.
3. Tuduhan sebagai khawarij adalah hal umum terutama dari golongan syiah. Padahal khawarij sebelumnya adalah bagian dari yang menamakan dirinya syiah Ali, ra (pengikut Ali, ra) yang kemudian hari balik memusuhi dan membunuh Khalifah Ali, ra. Syiah kufah dan khawarij ibarat pantat yang terbagi dua. Khawarij sendiri dengan pentolan Abdul Wahhab bin Abdurrahman Rustum di Mesir. Cukup mirip namanya dengan kata “Wahhab” padahal beda jaman hampir seribu tahun, namun bagi pembenci Syaikh tentu menjadi bahan fitnah yang empuk. Abdul Wahhab disamakan dengan Muhammad bin Abdul Wahhab.
Imam Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab telah membuat syiah, para sufi, tarekat, kebatinan jengkel karena beliau banyak membongkar kesyirikan mereka dengan mengambil dalil Al-Qur'an dam Sunnah shahih, pemahaman sahabat, ulama. Karena keberaniaannya beliau banyak dimusuhi dan difitnah dari kalangan munafikun terutama orang-orang syiah. Beberapa tuduhan seperti :
1. Tuduhan Ibn Wahhab suka mengkafirkan padahal Syiah sendiri adalah Master No. 1 Suka Mengkafirkan (syiah memang doyan maling teriak maling)
2. Tuduhan membuat madzhab baru yaitu Wahhabiyah (Wahhabi) yang semestinya jika memang beliau pernah membuat madzhab disebut Muhammadiyah, karena nama beliau Muhammad. Namun mereka menisbahkan kepada Asmaul Husna yaitu Al-Wahhab. Padahal Syaikh tidak pernah dalam sejarah menamakan dirinya sebagai madzhab atau aliran tapi sebuah strategi pemurnian Islam tanpa asesori bid’ah.
3. Tuduhan sebagai khawarij adalah hal umum terutama dari golongan syiah. Padahal khawarij sebelumnya adalah bagian dari yang menamakan dirinya syiah Ali, ra (pengikut Ali, ra) yang kemudian hari balik memusuhi dan membunuh Khalifah Ali, ra. Syiah kufah dan khawarij ibarat pantat yang terbagi dua. Khawarij sendiri dengan pentolan Abdul Wahhab bin Abdurrahman Rustum di Mesir. Cukup mirip namanya dengan kata “Wahhab” padahal beda jaman hampir seribu tahun, namun bagi pembenci Syaikh tentu menjadi bahan fitnah yang empuk. Abdul Wahhab disamakan dengan Muhammad bin Abdul Wahhab.
Ruang Gerak Syiah tidak Leluasa di Jazirah Arab
Ruang gerak para syiah tidak berkembang di jazirah Arab karena di bawah keluarga Ibn Saud, tempat-tempat dan acara-acara ritual syirik di larang atau tempat yang bisa berbuat syirik ditutup. Nah anda mungkin sudah maklum dengan komentar para pecandu syirik di web-web dan social media yang mendiskreditkan Arab Saudi?
Ambisi Untuk menghancurkan Ka'bah
Dari literatur syiah sendiri digambarkan bahwa Imam Mahdi Syiah akan menghancurkan Ka'bah. Hal senada juga dengan orang-orang syiah yang sejak dulu terkenal sebagai pembantai jemaah haji, pencuri Hajar Aswad, dan ancaman Ka'bah akan dihancurkan orang Syiah. Bahkan Era Modern ini para Hizbuzyaiton dan Syiah Houthy berencana menyerang Ka'bah.
![]() |
| Khiwani seorang syiah pernah mengancam akan menyerang Makkah, tapi dia tewas sebelum melaksanakan rencananya oleh serangan Saudi |
Emperium Persia Raya
Iran tidak mampu mewujudkan impiannya karena wilayah Persia Raya tidak akan bisa tanpa menyingkirkan Arab, Irak, Pakistan, Afghanistan, Kaukasia, yang di dominasi Ahlu Sunnah. Dan Arablah pusat ritual Islam. Jika anda pernah mendengar Ka'bah mau dipindahkan orang syiah, itu tidak lebih rasa dengki sama orang Arab.
Sebagian orang yang tidak suka dengan dakwah tauhid, menjuluki para da’i yang mengajak untuk bertauhid yang benar dengan julukan “wahabi”. Diantara perkara yang banyak diingkari para pembenci dakwah tauhid adalah larangan syariat terhadap ibadah di kuburan dan ngalap berkah di kuburan. Para da’i yang memperingkatkan hal ini pun lantas dijuluki “wahabi”. Padahal diantara para pembenci tersebut banyak yang menisbatkan diri pada madzhab Syafi’i, sedangkan para ulama madzhab Syafi’i pun melarang beribadah di kuburan dan ngalap berkah di sana. Simak penjelasan Ust Musyaffa Lc., MA. berikut ini:
Marah kesesatannya mendapat tantangan
Imam An Nawawi rahimahullah (wafat 676H), ulama besar madzhab Syafi’i, mungkin akan dikatakan terpengaruh paham Wahabi, karena perkataan beliau berikut ini:
لا يجوز أن يطاف بقبره صلى الله عليه وسلم، ويكره إلصاق الظهر والبطن بجدار القبر، قاله أبوعبيد الله الحليمي وغيره. قالوا: ويكره مسحه باليد وتقبيله، بل الأدب أن يبعد منه كما يبعد منه لو حضره في حياته صلى الله عليه وسلم.
هذا هو الصواب الذي قاله العلماء وأطبقوا عليه، ولا يغتر بمخالفة كثيرين من العوام وفعلهم ذلك، فإن الاقتداء والعمل إنما يكون بالأحاديث الصحيحة وأقوال العلماء، ولا يلتفت إلى محدثات العوام وغيرهم وجهالاتهم… ومن خطر بباله أن المسح باليد ونحوه أبلغ في البركة، فهو من جهالته وغفلته، لأن البركة إنما هي فيما وافق الشرع، وكيف يبتغى الفضل في مخالفة الصواب؟!
“Tidak boleh thawaf di kuburannya Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dan tindakan menempelkan punggung dan perut ke dinding kuburan beliau adalah perbuatan yang dibenci. Itulah yang dikatakan oleh Abu Ubaidillah Al-Halimi dan ulama yang lainnya. Mereka juga mengatakan: “dibenci pula mengusap kuburan itu dengan tangan dan menciumnya. Namun yang sesuai dengan adab / sunnah adalah dengan menjauh dari kuburan beliau, sebagaimana hendaknya ia menjauhkan badannya bila ia mendatangi beliau saat masih hidup.
Inilah tindakan yang benar, yang dikatakan oleh para ulama, dan mereka sepakat dalam hal ini. Dan janganlah tergoda dengan banyaknya orang-orang awam yang menyelisinya, dan (jangan tergoda pula) oleh kelakuan mereka itu! Karena mengikuti dan mengamalkan sesuatu itu hanyalah dengan dasar hadits-hadits yang shahih dan perkataan para ulama. Dan jangan tergoda oleh bentuk-bentuk kebodohan dan perkara-perkara (bid’ah) yang diada-adakan oleh orang-orang awam. Barangsiapa terbetik di benaknya, bahwa mengusap dengan tangan dan tindakan yang semisalnya lebih mendatangkan berkah, maka itu merupakan kebodohan dan kelalaiannya. Karena keberkahan hanyalah dalam hal yang sesuai syariat. Bagaimana mungkin suatu keutamaan dicari dalam hal yang menyelisihi kebenaran?! (Al-Majmu’, karya Imam Nawawi, 8/275).
Banyak orang beranggapan dianjurkan untuk shalat di kuburan para wali saat berziarah. Tentunya dengan tujuan yang beragam.
Padahal Nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah menyabdakan:
لَا تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ
“Janganlah kalian shalat ke kuburan!” (HR. Muslim: 972).
Mungkin diantara mereka ada yang ngeyel dengan mengatakan: “itu kan kalau shalatnya menghadap ke kuburan, kalau saya shalatnya di kuburan tapi menghadap ke kiblat!“. Sayang, orang seperti ini belum tahu hadits-hadits lain yang lebih tegas dalam masalah ini. Bukankah Nabi kita tercinta shallallahu’alaihi wasallam juga telah menyabdakan:
الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْحَمَّامَ وَالْمَقْبَرَةَ
“Bumi semuanya bisa dijadikan masjid (yakni tempat shalat yang di dalamnya ada sujud), kecuali tempat untuk mandi, dan kuburan” (HR. Abu Dawud: 492 dll, dishahihkan oleh Alhakim, Adz-Dzahabi, dan Syaikh Al Albani).
Mungkin ia masih akan ngeyel dengan mengatakan: “itu kan pemahaman Anda yg wahabi”, mohon ma’af mas ‘lakum diinukum waliya diin“.
Subhanallah… sulit jadinya jika sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam kurang dihormati dan tidak didengarkan.
Baiklah, bukankah Ibnul Mundzir (wafat 319 H) yang bermazhab Syafi’i telah mengatakan:
وَقَوْله: «وَلَا تَجْعَلُوهَا قُبُورًا» ، يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الصَّلَاةَ غَيْرُ جَائِزَةٍ فِي الْمَقْبَرَةِ
“sabda beliau: ‘jangan jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan!‘, itu menunjukkan bahwa shalat itu tidak diperbolehkan di kuburan” (Kitab Al-Ausath, 2/183).

0 komentar:
Posting Komentar