Stigma wahabi menjadi marak beberapa tahun ini, tidak hal baik dimaksudkan dari stigma wahabi. Alamat ini paling sering ditujukan kepada orang Arab Saudi atau Daulah Islamiyah IS. Stigma wahabi dicenderungkan dengan tuduhan gampang mengkafirkan. anti bid'ah atau kekerasan. Sebenarnya istilah wahabi telah menjadi sejarah dan berulang, dulunya orang-orang yang menentang kolonialisme diberi gelar wahabi oleh pemerintah kolonialis, contohnya Inggris terhadap pergerakan Islam di sana sedangkan di Indonesia melekat sosok Imam Bonjol dalam perang Paderi, bahkan ormas Muhammadiyah pun pernah dicap wahabi. Sekarang istilah wahabi disemarakkan kembali oleh orang syiah terhadap orang-orang yang menentang ajaran tersebut serta orang Islamophobia misalnya media-media Barat. Sekarang kita lihat tulisan dari Ustadz Zainal Abidin Syamsudin tentang suatu diskusi, semoga dapat menjadi referensi pemikiran.
DIALOG WAHABI DI UNIVERSITAS ISLAM MAROKO
Bagaimanakah sejarah penamaan mereka??
| Ka'bah (photo credit : photobucket.com) |
DIALOG WAHABI DI UNIVERSITAS ISLAM MAROKO
Bagaimanakah sejarah penamaan mereka??
Marilah kita simak dialog Ilmiah yang sangat menarik antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir dengan para masyaikh/dosen-dosen disuatu Universitas Islam di Maroko.
Salah seorang Dosen itu berkata: ”Sungguh hati kami sangat mencintai Kerajaan Saudi Arabia,
demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat
condong kepadanya,dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana,
bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang,
kalian berada diatas suatu Madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu
akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.
Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab: ”Sungguh banyak
pengetahuan yang keliru yang melekat dalam pikiran manusia, yang mana
pengetahuan tersebut bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya,
dan mungkin kalian pun mendapat khabar-khabar yang tidak tepat dalam hal
ini. Baiklah, agar pemahaman kita bersatu, maka saya minta kepada
kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil
dari sumber-sumber yang terpercaya,dan saya rasa di Universitas ini
terdapat Perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam
terpercaya .Dan juga hendaknya kita semaksimal mungkin untuk menjauhi
sifat Fanatisme dan Emosional.”
Dosen itu berkata : ”saya setuju denganmu, dan biarkanlah para
Masyaikh yang ada dihadapan kita menjadi saksi dan hakim diantara kita.”
Asy Syaikh berkata : ”saya terima, Setelah bertawakal kepada Allah,
saya persilahkan kepada anda untuk melontarkan masalah sebagai pembuka
diskusi kita ini.”
Dosen itu pun berkata : ”baiklah kita ambil satu contoh,ada sebuah
fatwa yang menyatakan bahwa firqoh wahabi adalah Firqoh yang sesat.
Disebutkan dalam kitab Al-Mi ’yar yang ditulis oleh Al Imam
Al-Wansyarisi, beliau menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Lakhmi pernah
ditanya tentang suatu negeri yang disitu orang-orang Wahabiyyun
membangun sebuah masjid, ”Bolehkan kita Sholat di Masiid yang dibangun
olehorang-orang wahabi itu ??” maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab:”Firqoh
Wahabiyyah adalah firqoh yang sesat, yang masjidnya wajib untuk
dihancurkan, karena mereka telah menyelisihi kepada jalannya kaum mu
’minin, dan telah membuat bid’ah yang sesat dan wajib bagi kaum muslimin
untuk mengusir mereka dari negeri-negeri kaum muslimin ”. (wajib kita
ketahui bahwa Imam Al-Wansyarisi dan Imam Al-Lakhmi adalah ulama
ahlusunnah).
Dosen itu berkata lagi :”Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, bahwa tindakan kalian adalah salah selama ini”.
Kemudian Asy Syaikh menjawab : ”Tunggu dulu..!! kita belum sepakat,
lagipula diskusi kita ini baru dimulai, dan perlu anda ketahui
bahwasannya sangat banyak fatwa yang seperti ini yang dikeluarkan oleh
para ulama sebelum dan sesudah Al-Lakhmi, untuk itu tolong anda sebutkan
terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu !!”.
Dosen itu berkata: ”anda ingin saya membacakannya dari fatwanya saja, atau saya mulai dari sampulnya ??”
Asy Syaikh menjawab: ”dari sampul luarnya saja.” Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacakannya: ”Namanya adalah Kitab Al-Mi’yar,yang dikarang oleh Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H di kota Fas, di Maroko.
Kemudian Asy Syaikh berkata kepada salah seorang penulis di
sebelahnya: ”wahai syaikh, tolong catat baik- baik, bahwa Imam
Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H. Kemudian bisakah anda menghadirkan biografi Imam Al- Lakhmi??
Dosen itu berkata : ”Ya,” kemudian dia berdiri menuju salah satu
rak perpustakaan, lalu dia membawakan satu juz dari salah satu
kitab-kitab yang mengumpulkan biografi ulama. Didalam kitab tersebut
terdapat biografi Ali bin Muhammad Al-Lakhmi, seorang Mufti Andalusia
dan Afrika Utara.”
Kemudian Asy Syaikh berkata : ”Kapan beliau wafat?”
Yang membaca kitab menjawab: ”beliau wafat pada tahun 478 H” Asy Syaikh berkata kepada seorang penulis tadi : ”wahai syaikh
tolong dicatat tahun wafatnya Syaikh Al-Lakhmi ” kemudian ditulis.
Lalu dengan tegasnya Asy Syaikh berkata : ”Wahai para masyaikh….!!!
Saya ingin bertanya kepada antum semua …!!! Apakah mungkin ada ulama
yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum datang
(lahir) ???? kecuali kalau dapat wahyu????
Mereka semua menjawab :”Tentu tidak mungkin, Tolong perjelas lagi maksud anda !”
Asy syaikh berkata lagi : ”bukankah wahabi yang kalian anggap sesat
itu adalah dakwahnya yang dibawa dan dibangun oleh Syaikh Muhammad Bin
Abdul Wahhab????
Mereka berkata : ”Siapa lagi???”
Asy Syaikh berkata: ”Coba tolong perhatikan..!!! Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H, …
Nah,ketika Al-Imam Al-Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh RATUSAN
TAHUN lamanya syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab belum lahir..bahkan
sampai 22 generasi keatas dari beliau sama belum yang lahir..apalagi
berdakwah.. KAIF ??? GIMANA INI???
(Merekapun terdiam beberapa saat..)
Kemudian mereka berkata:”Lalu sebenarnya siapa yang dimaksud Wahabi
oleh Imam Al-Lakhmi tersebut ??” mohon dielaskan dengan dalil yang
memuaskan, kami ingin mengetahui yang sebenarnya !”
Asy Syaikh pun menjawab dengan tenang : ”Apakah anda memiliki kitab
Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil, seorang
kebangsaan Francis ?”
Dosen itu berkata: ”Ya ini ada,”
Asy Syaikh pun berkata : ”Coba tolong buka di huruf “ wau” maka
dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis “
Wahabiyyah”Kemudian Asy Syaikh menyuruh kepada Dosen itu untuk membacakan tentang biografi firqoh wahabiyyah itu.
Dosen itu pun membacakannya: ”Wahabi atau Wahabiyyah adalah sebuah
sekte KHOWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin
Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al- Abadhi, Orang ini telah banyak
menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji
dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang
menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H di kota Thorat di Afrika Utara.
Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya,
dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam
madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlussunnah.
Setelah Dosen itu membacakan kitabnya Asy Syaikh berkata : ”Inilah Wahabi yang dimaksud oleh imam Al-Lakhmi, inilah wahabi
yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan
oleh para ulama Andalusia dan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian
dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki. Adapun Dakwah yang
dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung oleh Al-Imam
Muhammad bin Su’ud-Rahimuhumallah-,maka dia bertentangan dengan amalan
dakwah Khowarij, karena dakwah beliau ini tegak diatas kitabullah dan
Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan beliau
menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka mendakwahkah
tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan
menjauhinya kepada bid ’ah, dan ini merupakan Manhaj Dakwahnya para Nabi
dan Rasul. Syubhat yang tersebar dinegeri-negeri Islam ini
dipropagandakan oleh musuh- musuh islam dan kaum muslimin dari kalangan
penjajah dan selain mereka agar terjadi perpecahan dalam barisan kaum
muslimin.
Sesungguhnya telah diketahui bahwa dulu para penjajah menguasai
kebanyakan negeri-negeri islam pada waktu itu,dan saat itu adalah puncak
dari kekuatan mereka. Dan mereka tahu betul kenyataan pada perang salib
bahwa musuh utama mereka adalah kaum muslimin yang bebas dari noda yang
pada waktu itu menamakan dirinya dengan Salafiyyah.
Belakangan mereka mendapatkan sebuah pakaian siap pakai, maka
mereka langsung menggunakan pakaian dakwah ini untuk membuat manusia
lari darinya dan memecah belah diantara kaum muslimin, karena yang
menjadi moto mereka adalah “PECAH BELAHLAH MEREKA, NISCAYA KAMU AKAN
MEMIMPIN MEREKA ”.
Sholahuddin Al-Ayubi tidaklah mengusir mereka keluar dari negeri
Syam secara sempurna kecuali setelah berakhirnya daulah Fathimiyyah
Al-Ubaidiyyin di Mesir, kemudian beliau (Sholahuddin mendatangkan para
ulama ahlusunnah dari Syam lalu mengutus mereka ke negeri Mesir,
sehingga berubahlah negeri mesir dari aqidah Syiah Bathiniyyah menuju
kepada Aqidah Ahlusunnah yang terang dalam hal dalil, amalan dan
keyakinan.(silahkan lihat kitab Al Kamil Oleh Ibnu Atsir).
Demikianlah saudara-saudaraku yang dirahmati oleh Allah, inilah
fakta yang ada, dimana musuh-musuh islam selalu saja menghalang-halangi
dakwah yang haq, karena manghancurkan islam adalah tujuan mereka, mereka
tahu kalau umat islam ini bodoh dari ilmu Agama akan sangat mudah
menghancurkannya dari dalam. Pelajaran penting juga yang dapat kita ambil, hendaknya bagi siapa
saja yang ingin mendiskusikan ilmu haruslah dia mendatangkan bukti-bukti
yang kuat sebagaimana dialog yang telah kita baca diatas,sehingga bukan
nafsu yang keluar dari mulutnya, melainkan imu yang shohih..dialoglah
dengan cara yang baik,
Arab Saudi adalah Wahhabi? Bukan Debat Kusir yang kosong dari Hikmah
Allahu ‘Alam bishshowab. Ustadz Zainal Abidin Syamsudin
terima kasih telah membaca artikel ini, kami ada juga di facebook :
terima kasih telah membaca artikel ini, kami ada juga di facebook :

0 komentar:
Posting Komentar