Pertalite dijual perdana dengan harga promo Rp 8.400/liter per 21 Juli 2015, sehingga berselisih lebih tinggi sebesar Rp 1.100/liter dengan Premium. Pertalite diuji coba di 101 SPBU yanng tersebar pada sekitar kota Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Selain itu, Pertalite diklaim memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan Premium. Pertalite direkomendasikan untuk kendaraan yang memiliki kompresi 9,1-10,1, terutama yang telah menggunakan teknologi setara dengan Electronic Fuel Injection (EFI) dan catalytic converters (pengubah katalitik). (wikipedia).
| Jokowi - JK (Photo asli : rmol.co) |
Bensin Premium masih banyak diminati
Kehadiran premiun masih banyak diminati terbukti di setiap SPBU antrian untuk bensin Pertamax masih kalah oleh panjangnya antrian untuk bensin premiun, itu berdasarkan pengamatan langsung setiap kali penulis ke SPBU untuk mengisi bensin. Lalu yang menjadi pertanyaan apakah penggunaan pertalite adalah suatu hal mendesak? Tentu tidak karena dalam secara ekonomi kondisi harga-harga kebutuhan pokok masyarakat dan transportasi disertai kenaikan tarif-tarif lainnya yang cenderung naik adalah hal yang paling mendesak dan lebih diperhatikan segera.
Kehadiran premiun masih banyak diminati terbukti di setiap SPBU antrian untuk bensin Pertamax masih kalah oleh panjangnya antrian untuk bensin premiun, itu berdasarkan pengamatan langsung setiap kali penulis ke SPBU untuk mengisi bensin. Lalu yang menjadi pertanyaan apakah penggunaan pertalite adalah suatu hal mendesak? Tentu tidak karena dalam secara ekonomi kondisi harga-harga kebutuhan pokok masyarakat dan transportasi disertai kenaikan tarif-tarif lainnya yang cenderung naik adalah hal yang paling mendesak dan lebih diperhatikan segera.
Mengapa harus pertalite?
Sekali lagi ditekankan apakah kebutuhan pertalite hal yang mendesak? Memberikan propaganda Pertalite RON 90 dengan sedemikian rupa lebih baik dari premiun RON 88 bukan hal yang sangat urgen. Lalu apakah klaim mesin awet dan irit adalah suatu hal urgen juga sekarang? Kami memiliki satu kendaraan motor Beat dari tahun 2011 memakai bensin premiun tidak mengalami kendala mesin atau menjadi terasa sangat boros. Dan selama ini kualitas bensin premiun bukanlah keluhan konsumen terutama masyarakat menengah ke bawah.
Dampak Lain
Kenaikan BBM menjadi Rp. 1100 akan menambah beban masyarakat karena dipastikan harga-harga kembali membumbung naik. Kenapa harga-harga akan naik? Karena bensin premiun dicabut ! Jangan lupa kenaikan harga BBM memberi efek domino dengan harga-harga lain, karena membengkaknya biaya distribusi. Inilah pemerintah berjiwa kapitalis yang mengurus negara seperti mengurus perusahaan swasta, terlalu mengejar laba tapi berhutang juga jor-joran di luar negeri.
Modus
Rezim Jokowi memang sebelum menaikkan harga BBM sampai juli 2015. Mungkin karena masih ingin menaikkan maka ide pertalite cepat diluncurkan masyarakat. BBM Pertalite tidak bisa dipahami sebagai aksi korporasi BUMN Pertamina untuk mengupayakan perolehan keuntungan atau menekan kerugian. Mengapa dikatakan? BBM selalu naik kok! lalu keuntungan bagaimana yang dicari? Keuntungan Perusahaan sebagai wujud kapitalisme? dan tidak terlalu memperhatikan kepentingan orang banyak. Kemarin masyarkat masih beradaptasi dan bersabar kondisi harga-harga dan tarif naik namun “dikemplang terus” agar harga naik kembali.
Mengapa sih pertamina rugi? Coba pikirkan !
Harga BBM Naik = Harga petroleum mentah yang terus menurun + ditambah biaya produksi + biaya distribusi (kenapa harus naik atau premiun dihapus?)
Yakinlah pertamina jika digerogoti oleh kepentingan kekuasaan, belum lagi jika Pertamina dipaksa terjun ke liberalisasi perdagangan BBM maka kemanapun bisnis Pertalite tetap berpotensi membuat rugi Pertamina. Dengan alasan rugi pertalite juga akan naik nantinya. Dan rakyatlah yang kena imbas kembali. Saran terbaik untuk Indonesia adalah rezim Jokowi – JK lengser aja. Dan kalian pemuja politikus semoga kalian benar-benar mati hati nurani terus membodohi masyarakat.
terima kasih telah membaca artikel ini, kami juga ada di facebook.

0 komentar:
Posting Komentar