Khutbah Yang Langka di Indonesia
Sungguh beruntung hari raya Idul Fitri, walau tidak bersama dengan keluarga, terasa ada yang langka yaitu khutbah idul fitri di Halaman Kantor Taspen Jakarta Pusat. Selama ini isi khutbah-khutbah baik di hari jum’at atau lebaran berputar tentang kisah, dosa, halal-haram dan ancaman neraka. Kali ini khutbah oleh seorang ustadz membahas secara luas dan kondisi terkini muslim di Indonesia dan seluruh dunia. Sang ustadz tidak hanya membahas dalil agama namun juga membahas tentang serbuan informasi yang tidak benar tentang Islam, persatuan umat Islam, tentang ronrongan dan fitnahan agama lain, Islam dan politik, kondisi politik dan ekonomi Indonesia terhadap umat Islam Indonesia tidak lupa membahas tentang syiah, liberalisme dan agama lain tak lupa tentang yaman, palestina, irak dll. Dengan gaya dan intonasi yang jelas dengan materi up to date membuat kita malas beranjak dari duduk segera. Saya lupa siapa nama ustadz nya yang jelas setelah rangkain idul fitri selesai saya cari beliau dan menjabat tangannya dan mengatakan “khutbah pak ustadz sangat bagus” dan dijawabnya “Amin”.
| photo credit : panjimas.com |
Siapa sih yang tidak takut neraka?
Tidak bermaksud mengkerdilkan atau menyepelekan thema umum yang diangkat oleh para ustadz di setiap ceramah namun perlu juga memperhatian aspek kekinian dan kondisi Islam jaman sekarang. Silahkan bahas tentang ayat, hadist, sejarah tapi jangan lupa terjemahannya dalam kondisi sekarang. Fenomena ini berlanjutan hampir di kebanyakan masjid-masjid saat sholat Jumaat. Ya memang betul siapa sih tidak takut dengan neraka? tapi juga penting bagaimana sejarah yang berputar di Islam diterjemahkan pula di kondisi sekarang. Misal kenapa ragu membahas politik? persetan dengan pemerintah yang ingin mengamputasi Islam dan politik. padahal manusia diciptakan ke dunia sebagai khalifah? bukankah itu sebuah politik?
Dalam suatu ceramah di mushallah Kapal Pelni sehabis shalat fardhu, salah seorang memberikan ceramah, beliau mengaku mualaf dan thema khutbah tentang pentingnya shalat berjemaah dengan dalil yang singkat, namun tiba-tiba beliau bertanya "berapa sih jumlah umat Islam di kapal ini? mengapa yang hadir shalat berjemaah begitu sedikit, saya ini mualaf dan kalian mungkin Islam turunan yang semestinya lebih sadar tentang hal itu? mengapa kalian duduk mendengar tausiah duduk berserakan tidak sebagaimana shalat berjemaah berbaris rapat?" karena sebuah ajakan dan sindiran kamipun mengambil duduk merapat di depan, kemudian beliau melanjutkan bahwa umat Indonesia dan dunia tidak bersatu (disertai contoh-contoh kecil) dan menggambarkan bahwa umat Islam itu perlu bersatu dan dimulai dari hal-hal terkecil di sekeliling kita.
Khutbah sering membosankan
Berkenaan fenomena khutbah yang saban hari, semakin membosankan, malah tidak menggairahkan bahkan materi yang disampaikan mungkin mirip yang anda dengar dari sejak SD saat pertama diharuskan ke mesjid oleh orang tua kita, bahkan sepatutnya khutbah itu suatu yang dinanti-nantikan oleh umat islam? Atau sesuatu hal yang memacu bersegera ke mesjid atau untuk memuhasabah diri dan khatib yang berbicara? Namun, apa yang berlaku adalah sebaliknya karena malah ada yang tidur ada yang asyik diskusi, asyik mencet HP padahal itu tidak boleh.
Menara Gading
Saya pikir para pengkhutbah khatib jaman sekarang sebaiknya bukan hanya pintar dari segi dalil agama namun juga penting menambah wawasan kekinian misal politik, ekonomi, budaya, iptek. dll. dan menghubungkan sedemikian rupa dengan kondisi dan isu-isu sekarang dan tidak menjadi khutbah datar itu-itu saja. Jangan seperti menara gading nun jauh dengan segala idealisme dan romantisme masah lalu dan setelah pulang ke rumah lenyap sudah apa yang dikatakan uztads tadi.terima kasih telah membaca artikel ini, kami juga ada di facebook :

0 komentar:
Posting Komentar