PENSARE.WEB.ID. Saat ini sangat mudah untuk menyamakan kecerdasan dengan kemudahan mendapatkan akses informasi. Dan tentu saja, informasi adalah bagian penting dari pengetahuan tapi kecerdasan karena menyerap banyak informasi belum tentu suatu kebijaksanaan. Anda bisa mengumpulkan informasi tentang semua kehidupan anda tapi anda masih
mengalami kesulitan setiap hari di tempat kerja atau dalam kelompok
sosial karena tidak belajar berasal dibalik sebuah informasi.
Perlu sharing
Hal ini terutama berlaku untuk menjadi seorang yang intuitif. Anda perlu berhubungan dengan banyak orang-orang yang telah memperoleh pengetahuan melampaui apa yang sering terjadi dibalik berita. Sederhanya kita bisa baca koran, artikel kesehatan, iklan kesehatan tapi tidak benar-benar tahu masalah kesehatan anda sehingga anda perlu dokter untuk konsultasi kesehatan.
Intuisi Pengalaman
Para petani merasakan kapan saatnya untuk memanen dari intuisi pengalamannya beberapa tahun, pengemudi mobil balap tampaknya secara naluriah menghindari kecelakaan, nelayan tahu kapan untuk kembali ke pelabuhan, ibu kita menyentuh nasi yang sedang dimasak jika nasi masih menempel di jari berarti belum matang dan politisi juga punya berbagai kemampuan intuitif membaca isyarat bahwa orang lain telah mendukung atau mengabaikannya. Mereka telah memiliki bentuk tertentu dari kebijaksanaan yang diperoleh dari waktu ke waktu.
Menjadi Sintesis
Sir Isaac Newton pernah berkata, "Jika saya melihat diriku dari jauh, seperti berdiri di atas bahu raksasa." Dia menghubungkan banyak keberhasilan yang luar biasa sebagai seorang ilmuwan untuk belajar dari karya orang lain. Dia adalah seorang synthesist, mampu menggambar pada karya pikiran besar.
Mencapai wawasan sintesis tidak seperti berdiri sendiri di atas gunung kemilau mengabaikan semua yang datang sebelum mereka, karena segala teknologi yang kita lihat sekarang adalah gambar besar kebijaksanaan orang lain dan orang-orang mengambil langkah berikutnya meramunya menjadi suatu karya. Singkatnya anda butuh kebijksanaan orang lain.
Menjadi waspada
Ini berguna untuk bertanya-tanya apakah kita sedang dan tergila-gila informasi bisa membahayakan kebijaksanaan kita?. Santai sajalah baca saja semua informasi namun jangan menyerap mentah-mentah segala informasi karena media massa manapun termasuk media di mana membaca artikel ini pasti punya motif tersendiri. Semua media punya motif apalagi media mainstream tentu motifnya lebih banyak lagi. Apalagi yang mencitrakan sesuatu demi uang dan polaritas semu. Waspada jangan mau jadi budak pemikiran atau mudah terpengaruh berita media atau fatwa-fatwa agama-politik yang menyesatkan karena otak anda adalah milik anda dan otak anda punya kapasitas mengolah, menyaring informasi dan mencocokkan kebijaksanaan berdasarkan pengalaman dan sejarah.
Kita semua harus memiliki guru yang mungkin saja dia tidak terkenal bukan masalah atau bisa saja mereka tidak banyak menghasilkan inovasi sukses menurut ukuran materi, tetapi mungkin saja ia telah melihat atau mengalami peristiwa yang datang dan pergi. Kita sempatkan bertemu orang-orang yang tahu kebijaksanaan untuk mensintesis kebijaksanaannya. Mungkin mereka guru-dosen, tokoh masyarakat, suami, bapak, ibu kita, petani di sawah, peternak di kebun, tukang bengkel, peneliti, atau hansip di pos ronda, dll. Seraplah pengalaman kebijaksanaan mereka.
terima kasih telah membaca artikel ini, kami juga ada di facebook :
Perlu sharing
Hal ini terutama berlaku untuk menjadi seorang yang intuitif. Anda perlu berhubungan dengan banyak orang-orang yang telah memperoleh pengetahuan melampaui apa yang sering terjadi dibalik berita. Sederhanya kita bisa baca koran, artikel kesehatan, iklan kesehatan tapi tidak benar-benar tahu masalah kesehatan anda sehingga anda perlu dokter untuk konsultasi kesehatan.
Intuisi Pengalaman
Para petani merasakan kapan saatnya untuk memanen dari intuisi pengalamannya beberapa tahun, pengemudi mobil balap tampaknya secara naluriah menghindari kecelakaan, nelayan tahu kapan untuk kembali ke pelabuhan, ibu kita menyentuh nasi yang sedang dimasak jika nasi masih menempel di jari berarti belum matang dan politisi juga punya berbagai kemampuan intuitif membaca isyarat bahwa orang lain telah mendukung atau mengabaikannya. Mereka telah memiliki bentuk tertentu dari kebijaksanaan yang diperoleh dari waktu ke waktu.
Menjadi Sintesis
Sir Isaac Newton pernah berkata, "Jika saya melihat diriku dari jauh, seperti berdiri di atas bahu raksasa." Dia menghubungkan banyak keberhasilan yang luar biasa sebagai seorang ilmuwan untuk belajar dari karya orang lain. Dia adalah seorang synthesist, mampu menggambar pada karya pikiran besar.
Mencapai wawasan sintesis tidak seperti berdiri sendiri di atas gunung kemilau mengabaikan semua yang datang sebelum mereka, karena segala teknologi yang kita lihat sekarang adalah gambar besar kebijaksanaan orang lain dan orang-orang mengambil langkah berikutnya meramunya menjadi suatu karya. Singkatnya anda butuh kebijksanaan orang lain.
Menjadi waspada
Ini berguna untuk bertanya-tanya apakah kita sedang dan tergila-gila informasi bisa membahayakan kebijaksanaan kita?. Santai sajalah baca saja semua informasi namun jangan menyerap mentah-mentah segala informasi karena media massa manapun termasuk media di mana membaca artikel ini pasti punya motif tersendiri. Semua media punya motif apalagi media mainstream tentu motifnya lebih banyak lagi. Apalagi yang mencitrakan sesuatu demi uang dan polaritas semu. Waspada jangan mau jadi budak pemikiran atau mudah terpengaruh berita media atau fatwa-fatwa agama-politik yang menyesatkan karena otak anda adalah milik anda dan otak anda punya kapasitas mengolah, menyaring informasi dan mencocokkan kebijaksanaan berdasarkan pengalaman dan sejarah.
Kita semua harus memiliki guru yang mungkin saja dia tidak terkenal bukan masalah atau bisa saja mereka tidak banyak menghasilkan inovasi sukses menurut ukuran materi, tetapi mungkin saja ia telah melihat atau mengalami peristiwa yang datang dan pergi. Kita sempatkan bertemu orang-orang yang tahu kebijaksanaan untuk mensintesis kebijaksanaannya. Mungkin mereka guru-dosen, tokoh masyarakat, suami, bapak, ibu kita, petani di sawah, peternak di kebun, tukang bengkel, peneliti, atau hansip di pos ronda, dll. Seraplah pengalaman kebijaksanaan mereka.
terima kasih telah membaca artikel ini, kami juga ada di facebook :

0 komentar:
Posting Komentar