Artikel hanya sebuah analis yang bisa benar dan bisa salah merupakan hasil membaca beberapa literatur, baik media dalam negeri maupun media luar. Artikel ini bukan untuk memastikan sesuatu karena kami tidak punya agen berita di wilayah perang, dan tidak pula ingin membuat pernyataan bombastis yang terkesan menggurui tanpa argumen yang memadai.
Sebenarnya tidak perlu heran Rusia mendukung Suriah karena di era Breznev negara Uni Sovyet adalah sekutu utama Hafez Assad (ayah Basaar Assad), mungkin sekarang terlalu aneh meributkan keterlibatan Rusia di Suriah. Hal ini bisa dilihat dari sisi persenjataan model lama dan baru Suriah yang merupakan produk bantuan Rusia.
Dari berbagai berita media di belahan dunia bahwa terjadi pertempuran antara Rezim Assad yang didukung Rusia dan Syiah Iran melawan Mujahidin Suriah. Beberapa berita menyatakan bahwa serangan bom oleh Rusia lebih banyak menargetkan wilayah yang dikuasai kepada Jaiz-Al Fath, FSA dan front Nusra dibanding dengan wilayah yang dikuasai IS. Komentar di sosial media pun semakin gencar dan menuduh Daulah IS adalah antek Amerika dan Israel.
Timbul pertanyaan mengapa Rusia lebih memilih mujahidin Rusia dibanding Daulah IS padahal di IS berada manusia yang paling dicari dan berbahaya bagi Rusia? Dia adalah Omar Al-Shisani seorang pejuang Kemerdekaan Chechnya yang bergabung dan menjadi komandan tempur Daulah IS. Berikut kami sajikan peta pemboman yang di ambil dari peta (The Levantine Group)
Militer Rusia membutuhkan Pangkalan Laut Yang Strategis dan aman
Dari sudut peta nampak FSA lebih dekat dengan laut dibanding daulah IS berarti FSA lebih memungkinkan menyerang pelabuhan militer Suriah atau pantai di Suriah dibanding IS. Sedangkan Rusia sangat membutuhkan pangkalan laut untuk mendukung serangan ke seluruh Suriah dan Iraq lewat armada kapal induk yang membawa jet tempur. Dan dari kemarin serangan dari armada kapal Rusia dilakukan di Laut Kaspia yang sangat jauh dan melewati wilayah Iran. Dan jika Rusia mengandalkan pangkalan udara maka itu kecerobohan karena Daulah IS adalah spesialis merebut pangkalan Udara. Oleh karena itu mesti ada dukungan armada laut yang dekat Suriah.
Berfokus ke pemberontak yang lebih dekat Damaskus.
Dari peta menunjukkan posisi FSA dkk. lebih dekat ke Damaskus dan jika Damaskus jatuh maka tamatlah riwayat rezim Asaad, oleh karena itu fokus ke pemberontak FSA dan bukan pada ISIS adalah masuk akal. Daulah IS hampir minim melawan rezim Assad di Damaskus karena sebelum ke sana akan bertemu dengan FSA yang memusuhi IS. paling IS hanya menyerang Palmyra, Quaritayn, Deir Ez-Zor, atau menghadapi Peshmerga. Dan tentunya IS tidak ingin frontal menyerang FSA karena hanya mengurangi beban kerja rezim Assad.
Menyerang Daulah IS lebih cepat berarti membesarkan Anjing Hyena
Menyerang Daulah atau menaklukkan Daulah IS secara cepat sama saja membesarkan anjing hyena. Perlu diketehui anjing hyena adalah anjing yang suka mengambil atau merampok buruan, anjing Hiena itu ibarat Syiah Iran yang terkenal bermuka banyak. Iran sekarang menguasai Lebanon, Iraq, dan mengambil peran dalam kekacauan di banyak negara. Syiah iran dianggap sekutu Rusia namun main mata pula dengan Amerika dan Israel. Dan Iran mengambil jajahan Amerika yaitu Irak secara gratis tanpa pertempuran, serta tercapainya kesepakatan nuklir oleh keduanya (Amerika Iran adalah musuh atau teman?).
| hyena - photo credit |
Masuk Rusia ke Suriah secara langsung bisa berarti wujud ketidakpercayaan Rusia kepada Iran yang ikut memasuki Suriah, bisa saja Suriah bernasib seperti Libanon diterkam Hyena. Dan ISIS adalah musuh utama para Hyena. Menghilangkan predator pemangsa hyena sama aja merepotkan kedudukan Rusia secara jangka panjang jika Rusia menguasai petak Suriah. Dan tentunya bagi Rusia biarlah Si Hyena sibuk di Iraq bertarung menguras energi dengan ISIS agar tidak mengganggu Rusia yang sibuk melindungi sekutu terdekatnya di Timur Tengah yaitu Suria.
Keterlibatan Amerika mendukung Mujahidin Suriah
Beberapa tahun sebelumnya pihak Amerika telah mendukung yang namanya "mujahidin moderat" untuk melawan Assad dan Daulah IS namun proyek ini terlihat akan gagal karena beberapa tentara yang direkrut malah membelot atau menyerahkan senjatanya ke pihak pemberontak lainnya atau ke IS. Dan mujahidin Suriah sekarang lebih banyak didukung oleh negara Arab dan Turki dan keduanya pun bisa dibaca kekuatannya, namun boleh dikata Arab Turki lebih dekat secara militer dengan amerika, berarti mengganggu mereka bisa sebagai balasan Amerika mencampuri urusan Ukraina lepas dari Federasi Rusia.
Daulah IS (ISIS) adalah pilihan berikutnya
Secara perbatasan pihak FSA dan Nusra lebih terisolir dari dunia luar (lihat peta), sedangkan jika menyerang IS akan lebih mudah membanjirnya pejuang baru masuk ke perbatasan Irak dan Raqqa Suriah dibanding FSA dan Nusra yang terisolir. Dan jika Rusia, Assad dan Iran menang maka Barat akan dipaksa untuk memilih antara Assad atau ISIS di Suriah. Trik serangan udara Rusia tampaknya menargetkan Mujahidin di Suriah - dengan dalih menargetkan ISIS nampak seperti sandiwara berita. Mungkin sebuah sebuah pancingan Rusia terhadap Amerika dan sekutu Barat mengenai ISIS karena selama ini dianggap Amerika adalah pencipta ISIS / IS padahal jika melihat sejarah IS berasal dari Al-Qaeda yang merupakan musuh utama Amerika saat invasi ke Iraq.
Tidak menyerang IS lebih dahulu sebenarnya juga punya resiko
Melemahnya pihak FSA dan Nusra akan memudahkan daulah IS (ISIS) memperluas wilayah yang ditinggalkan mujahidin Suriah jika terdesak. Namun keberadaan ISIS menguasai petak luas di Iraq dan Suriah juga mengurangi mujahidin baru masuk ke Suriah karena harus melalui wilayah Daulah IS. Dan resiko lainnya Rusia masuk Suriah berarti kata lain Rusia sedang mengucapkan selamat tinggal kepada negara satelitnya yaitu Ukraina yang sekarang didukung Amerika.
Kesimpulan
Perang masih berlangsung dan makin lama masa perang makin banyak kerugian di semua pihak dan sekarang pun belum bisa ditebak siapa pemenangnya karena para pendukung masing-masing kubu tentunya tidak akan tinggal diam. Ya Suriah menjadi arena Proxy War.
Analisis : Irwan Bachrie, Indonesia

0 komentar:
Posting Komentar