Pensare - Yang sudah terbiasa diskusi di sosial media mungkin tidak asing lagi dengan golongan pemuja politikus, mereka akan marah emosi jika ada yang mengkritik sesembahannya alias politikus idolanya. Pokoknya di mata mereka tidak ada istilah salah bagi sesembahannya tersebut, mungkin tidak berlebihan seperti jika mengkritik seorang nabi. Pokoknya jika tidak mau di berurusan dengan pemuja politikus ini, ikuti saja aturan ini
pasal 1. Jokowi Ahok tidak pernah salah tidak boleh dikritik
pasal 2. Jika Jokowi Ahok dusta pro rakyat, kembali pasal 1
pasal 1. Jokowi Ahok tidak pernah salah tidak boleh dikritik
pasal 2. Jika Jokowi Ahok dusta pro rakyat, kembali pasal 1
Bukan hanya dunia bola yang ada fans fanatiknya, di dunia politik pun ada, mereka akan muncul setiap ada yang mengkritik idolanya, atau bahkan membuat status atau meng share berita tentang jokowi ahok yang sebenarnya bagi orang waras mungkin lucu karena apa yang diagungkan jauh dari realitas keadaan masyarakat. Kalau perlu mengatakan kepada pengkritik belum "move on" yang malah terdengar dungu karena Pemilu sudah lama berlalu dan tidak ada masalah lagi, dan lagi pula belum tentu yang mengkritik Jokowi adalah pengagum Prabowo.
Inilah demokrasi ala media massa, kedaulatan di tangan media massa karena mampu menggiring opini masyarakat bahkan melahirkan pemuja-pemuja fanatik yang lucu-lucu komentarnya jika sesembahnnya dikritik. Demokrasi ala idol-idolan ala acara TV yang mengaduk-ngaduk perasaan sehingga masyarakat mengirim SMS premium.
Demokrasi penggiringan ala kerbau oleh media massa dengan menyuguhi gambar-gambar pencitraan yang membuat berdecak kagum. Lalu sekarang apa yang dimitoskan sosok pro rakyat ini benar-benar pro rakyat? cuma orang miskin wawasan yang mengatakan "ya".
Tapi wajarlah setiap orang punya idola, senang melihat idolanya kelihatan sederhana membumi merakyat namun sebenarnya itu wajar karena memang seharusnya begitulah pemimpin. Namun tidak perlu lebay seperti mengkultuskan walau sang idola kebijakannya jauh panggang dari api dan terkesan muluk-muluk.
Jokowi memang sukses, sukses menjual mimpi kepada masyarakat Indonesia dan itu wajar sebagai politikus yaitu menjual mimpi. Jokowi menjadi besar dalam menyampaikan mimpi-mimpinya membangun Indonesia, tetapi sekarang lemah melihat data dan fakta sehingga kelihatan terlalu banyak rencana sedangkan realisasinya mangkrak.
Masyarakat mulai sadar pembodohan (oleh media bayaran, politikus, pemuja dll], Sudah tidak relevan lagi untuk menunjukkan citra, penampilan dan atribut... Kini saatnya pembukitan esensi sikap, bagaimana seharusnya Pemimpin yang Merakyat itu melalui kebijakan-kebijakan yang Pro Rakyat bukan hanya pencitraan yang menina bobokkan pasukan sosial media pemuja politikus yang belum bangun dari mimpinya padahal pujaannya sudah lupa janji pro rakyat.
Inilah demokrasi ala media massa, kedaulatan di tangan media massa karena mampu menggiring opini masyarakat bahkan melahirkan pemuja-pemuja fanatik yang lucu-lucu komentarnya jika sesembahnnya dikritik. Demokrasi ala idol-idolan ala acara TV yang mengaduk-ngaduk perasaan sehingga masyarakat mengirim SMS premium.
Demokrasi penggiringan ala kerbau oleh media massa dengan menyuguhi gambar-gambar pencitraan yang membuat berdecak kagum. Lalu sekarang apa yang dimitoskan sosok pro rakyat ini benar-benar pro rakyat? cuma orang miskin wawasan yang mengatakan "ya".
Tapi wajarlah setiap orang punya idola, senang melihat idolanya kelihatan sederhana membumi merakyat namun sebenarnya itu wajar karena memang seharusnya begitulah pemimpin. Namun tidak perlu lebay seperti mengkultuskan walau sang idola kebijakannya jauh panggang dari api dan terkesan muluk-muluk.
Jokowi memang sukses, sukses menjual mimpi kepada masyarakat Indonesia dan itu wajar sebagai politikus yaitu menjual mimpi. Jokowi menjadi besar dalam menyampaikan mimpi-mimpinya membangun Indonesia, tetapi sekarang lemah melihat data dan fakta sehingga kelihatan terlalu banyak rencana sedangkan realisasinya mangkrak.
Masyarakat mulai sadar pembodohan (oleh media bayaran, politikus, pemuja dll], Sudah tidak relevan lagi untuk menunjukkan citra, penampilan dan atribut... Kini saatnya pembukitan esensi sikap, bagaimana seharusnya Pemimpin yang Merakyat itu melalui kebijakan-kebijakan yang Pro Rakyat bukan hanya pencitraan yang menina bobokkan pasukan sosial media pemuja politikus yang belum bangun dari mimpinya padahal pujaannya sudah lupa janji pro rakyat.
Sekarang masyakat mulai pintar dan blusukan jokowi tidak ampuh lagi menyihir orang dengan blusukan masuk got, nyebur sawah, selfie di pasar, karena sudah kuno, masyarakat sudah mulai merasakan kelimpungan dengan harga kebutuhan pokok yg tetap tinggi walau harga BBM diturunkan sekalipun.
Namun yang aneh masih ada pemuja, pengkultus yang tidak realistis dan tidak sadar sebenarnya dirinya adalah bagian perbudakan opini, perbudakan pikiran atas nama sosok merakyat, bersih, anti korupsi padahal bertolak belakang realita kehidupan bernegara bermasyarakat. Yang inilah mungkin buzzer berbayar, mereka dibayar untuk mempromosikan dan memblok opini tuannya yang telah terbuka belangnya. Rela dibayar mempromosikan dusta tuannya.



0 komentar:
Posting Komentar